GEREJA DALAM PERJANJIAN BARU
Pada tulisan singkat ini saya akan
memaparkan beberapa pokok-pokok pemikiran berkaitan dengan topik gereja menurut
perjanjian baru. Pokok-pokok pemikiran ini akan saya kemukakan kembali sebagai
sebuah bentuk inti sari pemikiran dari beberapa ahli tetang topik yang dimaksud
sebelumnya. Pokok-pokok pemikiran ini juga akan saya telaah, bandingkan, serta
saya analisa guna merenkonstruksi kembali pemikiran yang komprehensif mengenai
gereja dalam bingkai perjanjian baru.
Perlu dicermati bahwa kajian terhadap gereja dalam topik ini mengindikasikan adanya suatu batasan tertentu yaitu dalam pandangan perjanjian baru. Maka dari itu pembahasan yang akan saya lakukan tidak akan meluas sampai kepada pembahasan perkembangan sejarah gereja setelah gereja dari dalam dunia perjanjian baru sendiri.
Perlu dicermati bahwa kajian terhadap gereja dalam topik ini mengindikasikan adanya suatu batasan tertentu yaitu dalam pandangan perjanjian baru. Maka dari itu pembahasan yang akan saya lakukan tidak akan meluas sampai kepada pembahasan perkembangan sejarah gereja setelah gereja dari dalam dunia perjanjian baru sendiri.
Pembahasan ini saya mulai dari sebuah
titik dimana pokok pembicaraan berkaitan dengan sejak kapan gereja dalam PB mulai
bereksistensi. Dimulainya gereja dalam konteks PB sendiri jika mengikuti
pendapat Nico Syukur Dister OFM adalah sejak Yesus meletakan dasar dari
pemilihan murid-murid sebagai cikal bakal gereja tanpa Yesus sendiri berniat
untuk membuat gereja, jadi Yesus tidak pernah secara langsung membuat gereja
tetapi sekaligus juga secara tidak langsung menimbulkan gereja dari seluruh
karya-Nya.[1]
Penekanan pekerjaan Yesus sebenarnya ialah pemberitaan kerajaan Allah dan bukan
berkonsentrasi pada pembentukan gereja. Yesus dalam pandangan pra-paskah hanya
sekedar berperan sebagai peletak dasar semata apa yang dikemudian hari disebut
sebagai gereja. Namun pada pendekatan lain Guthrie menyatakan bahwa eksistensi
gereja dalam konsep jemaat baru secara tidak langsung tumbuh saat ada tuntutan
etis dari ajaran Yesus yang sifatnya tidak interimsethik (sementara), yang
sebenarnya mensyaratkan adanya keberadaan jemaat untuk aktualisasi nilai etis
tersebut yang berbeda dengan pegangan dunia.[2]
Guthrie dengan ini menyangkal pendapat bahwa Yesus tidak tertarik dengan
keberadaan jemaat baru. Meskipun demikian Guthrie secara terbuka menyatakan
bahwa pemikiran mengenai komunitas etis yang dikemukakanya memang tidak dapat
sepenuhnya akurat dan masih samar-sama tetapi setidaknya dapat membantah
pendapat mengenai kekosongan Yesus dalam kaitan dengan mulainya gereja.
Pembahasan Guthire mengenai kelahiran
gereja di akuinya ialah pada saat hari Pentakosta. Hal ini juga didukung oleh
Wayne Jackson yang menyatakan bahwa secara historis dalam PB gereja ada setelah
50 hari kematian Yesus yaitu pada peristiwa Pentaskosta yang disaksikan oleh
kitab Kisah Para Rasul, maka sejak itu gereja adalah ada.[3] Jackson
memang juga menekankan kaitan dengan Yesus sebagai inti pemberitaan sesudah
kematian-Nya. Lebih lanjut lagi menurut Algood ada tiga dasar pekabaran injil
setelah peristiwa Pentakosta tersebut, yakni: Yesus telah disalibkan untuk
dosa-dosa manusia. Dia telah mati dan dikuburkan. Tetapi hari ketiga bangkit
lalu 40 hari kemudian naik ke surga dan duduk disebelah kanan Allah.[4] Begitu
pula dengan pendapat Berkhof bahwasanya gereja lahir pada hari keturunan Roh
Kudus pada pesta pentakosta. Ditandai dengan pesatnya pemberitaan dan
penerimaan injil pada saat itu maka banyak terbentuklah kelompok kecil yang
lebih mirip sebagai mazhab Yahudi.[5]
Sungguh menarik ada berbagai macam
pendapat dan juga pendekatan dengan penekanan substansi yang juga berbeda.
Dister menekankan bahwa kerajaan Allah menjadi tumpuan utama dari usaha Yesus
semasa hidupnya bahkan tidak memikirkan mengenai gereja. Guthrie pun pada
bagian pengantar tulisanya tentang Jemaat Kristen Mula-mula juga menenkankan
konsep kerajaan Allah dan hubungannya dengan jemaat. Guhtrie secara tegas
menyatakan bahwa ada dikotomi antara kerajaan Allah dengan jemaat. Jemaat
memperoleh dasarnya di dalam kerajaan Allah tetapi jemaat bukanlah kerajaan
Allah itu sendiri. Ungkapan terakhir Guthrie dalam pengantarnya ialah “Paling
baik menganggap bahwa semua yang termasuk dalam kerajaan Allah termasuk dalam
jemaat yang sempurna, tetapi bahwa semua yang termasuk dalam jemaat yang
kelihatan belum tentu termasuk dalam kerajaan Allah.”[6] dari
dua pembahasan ini, nampak bahwa sebenarnya baik Dister maupun Guthtrie menenkankan
hal yang sama yaitu mengenai kerajaan Allah. Dister bahkan juga sependapat
dengan Guthrie bahwa jemaat sadar mereka tidak identik dengan kerajaan Allah
(basilea) tetapi dalam konteks perjanjian baru mereka merupakan ekklsia.[7]
Tema kerajaan Allah ini penting untuk tetap dibahas karena saya melihat bahwa
pada masa setelah kehidupan Yesus terjadi transposisi yang sangat mendasar dari
pekerjaan pekabaran injil yang dilakukan murid-murid. Hal ini nampak dalam
pembahasan Jackson dimana setelah Pentakosta terjadi pergeseran topik
pemberitaan dimana justru Yesus yang diberitakan bukan lagi kerajaan Allah.
Kerajaan Allah seakan masuk ke dalam diri Yesus melalui kematian-Nya sehingga
untuk masuk ke dalam kerajaan Allah seakan-akan mensyaratkan agar orang pada
masa itu untuk mengakui dan percaya kepada Yesus. Khususnya kepada kisah
mengenai Yesus yang dikabarkan oleh rasul-rasul. Jadi dengan jelas terjadilah
transposisi dari kerajaan Allah yang Yesus sendiri tekankan dalam ajaran-Nya
menuju kepada cerita mengenai diri-Nya sendiri kepada orang banyak.
Apabila sedikit kembali membahas
mengenai kelahiran gereja maka saya melihat ada kesepakatan secara umum bahwa
gereja lahir saat Pentakosta terjadi. Pada prinsipnya gereja mulai hidup dari akar
orang-orang Yahudi tetapi tidak lagi menekankan ajaran Yudaisme. Sehingga jika
dikatakan bahwa sejak masa Yesus gereja sudah ada saya tidak sependapat.
Menilik Dister Yesus hanya meletakan dasar bukan membuat gereja secara langsung
lebih tepat ketimbang melihat kemungkinan bahwa benar Yesus tertarik membuat
gereja. Alasan saya ialah karena Yesus sendiri datang ke dunia ini tidak
sekalipun pernah bertujuan untuk menciptakan agama baru. Yesus tidak bisa dilepaskan
begitu saja ke-Yahudia-an-Nya! Yesus tetap orang Yahudi dan memeluk agama
Yahudi serta nampak dalam kisah injil-injil Yesus hanya menekankan perubahan
dari pemikiran yang salah yang telah terpola pada masyarakat Yahudi. Pemikiran
Dister agaknya lebih bisa diterima meskipun pada sisi lain ide Guthrie mengenai
syarat komunitas etis juga masuk akal. Komunitas etis itu menurut saya lebih
tepat jika juga dipahami dalam konsep berpikir Dister. Saya melihat sebenarnya
ada kesamaan bahwa komunitas etis itu juga hanyalah implikasi artinya belum
dibentuk dengan sengaja sejak awal. Sehingga aspek ini masih lebih cenderung mengarah
pada kenyataan yang tidak juga direncanakan. Apabila benar Yesus tertarik tentu
ajaran Yesus mengenai komunitas akan banyak muncul sebagai pembekalan yang
diberikan. Yesus harus benar-benar memantapkan komunitas ini bila memang Dia
tertarik kepadanya. Tidak mungkin Yesus bisa pergi dengan tenang sambil
meninggalkan sesuatu yang diinginkan-Nya tetapi tidak dipersiapkan-Nya.
Satu poin penting yang saya dapat dari
pemikiran-pemikiran para ahli diatas bahwa gereja tidak dapat dipisahkan dari
Yesus. Deffinbauhg dalam artikelnya menyatakan bahwa fungsi gereja yang paling
sederhana ialah untuk terus melanjutkan kehidupan Kristus di dunia.[8] Jika
demikian maka saya melihat bahwa memang gereja dan Yesus tidak dapat dipisahkan
begitu saja. Sebab subjek yang berperan penting di dalam gereja sendiri ialah
Yesus. Hal ini juga nampak dalam kisah-kisah di dalam PB dimana Yesus terus
menjadi pokok pemberitaan. Lebih lanjut dapat dipahami bahwa Gereja yang lahir
dalam dunia PB secara tidak langsung merupakan dampak dari ajaran Yesus,
sehingga tanpa adanya ajaran Yesus (yang dikemudian hari bergeser penekananya)
tidak mungkin juga ada gereja. Teks perjanjian baru menjelaskan hal ini dimana
jika dilihat dari pola cerita injil kemudian masuk kedalam surat-surat maka
nampak jelas masih ada korelasi antara Yesus dengan gereja atau lebih tepat
disebut sebagai jemaat.
Kini saya beralih untuk membahas suatu
penekanan kepada bagaimana gereja dalam PB bertumbuh. Pola pemikiran mengenai
ekklesia pada pembahasan sebelum akan menentukan bagaimana memahami wajah
gereja sesungguhnya dalam bingkai PB. Kata ekklesia menjadi kunci utama dalam
memahami bagaimana gereja dalam dunia PB mengalamai berbagai macam kejadian.
Kata ini sendiri oleh Ryrie diartikan sebagai “dipanggil bersama” secara
etimologi olehnya dianggap lebih tepat dan dari akar kata Yunaninya yang juga
bermakna suatu perhimpunan dengan konotasi politik bukan keagamaan.[9] Ekklesia
menjadi kata yang paling banyak dipakai dalam surat-surat Paulus, memilik arti
luas berkaitan dengan jemaat lokal dan jemaat semesta.[10]
Ide gereja lokal dan gereja semesta (gereja universal) banyak disinggung oleh
ahli-ahli. Melalui pemahaman gereja lokal dan gereja universal inilah membantu
untuk kemudian dapat memahami bagaimana gereja atau jemaat berkembang dalam PB
khususnya berkaitan dengan jemaat di dalam surat-surat Paulus. Ryrie membedakan
gereja lokal sebagai jemaat yang berada dalam suatu unit tertentu misalnya di
kota tertentu, sedangkan gereja universal adalah ikatan semua orang percaya di
surga dan di bumi.[11]
Berangkat dari pemikira Ryrie saya kemudian merasa bahwa perlu untuk menelaah
satu per satu gereja lokal di dalam PB untuk juga kemudian dapat melihat
bagaimana ikatan mereka sebagai gereja universal. Pembahasan mengenai gereja
lokal ini saya gabungkan dari beberapa tulisan ahli mengenai gereja-gereja
lokal dalam PB khususnya gereja dalam pemikiran injil-injil juga bagaimana
gereja dalam surat-surat Paulus.
·
Gereja dalam
Injil Sinoptik[12]
Guthrie
dalam tulisanya memandang bahwa gereja dalam injil-injil sinoptik menekankan
akan rumusan hubungan antara jemaat denga kerajaan Allah sebagaimana yang
dijelaskan pada bagian awal. Gagasan mengenai jemaat dalam injil sinoptik
digambarkan sebagai Israel yang sejati dan murid-murid Yesus sebagai inti
jemaat yang baru. Di dalam injil sinoptik sendiri hanya ada dua kali kata
ekklesia muncul yaitu pada Matius 16:18, 18:17. Pada pasal 16:18 pembahasan
yang dikemukakan ialah mengenai Petrus sebagai dasar pendirian jemaat meskipun
tidak dapat dibesar-besarkan bahwa Yesus dengan ini menyatakan adanya suatu
hirarki. Kemudian pada Matius 18 sebenarnya penekanana ajaran bukan kepada
bentuk sebuah institusi tetapi menurut Guthrie lebih mengarah kepada ajaran
supaya mengambil keputusan secara bersama-sama terkait kedisiplinan terhadap
dosa. Dalam konteks kitab ini tidak sekalipun adanya suatu gagasan bahwa gereja
ialah suatu bentuk lembaga penuh kuasa karena kekuasaan itu terletak pada Yesus
sendiri bukan gereja atau jemaat. Amanat lain yang dibicarakan dalam injil ini
ialah mengenai sifat universal bahwa murid-murid nantinya harus berasal dari
semua bangsa dan harus diajarkan kepada mereka apa yang telah Yesus ajarkan. Jenis
upacara keagamaan yang di kemukakan
dalam injil-injil ini ialah berkaitan dengan baptisan dan perjamuan kudus. Hal
yang paling penting ialah pemikiran utama mengenai jemaat dalam injil-injil
sinoptik yaitu Kristus merupakan pusat dalam jemaat yang akan datang.
·
Gagasan Jemaat
dalam Injil Yohanes[13]
Terdapat
kesulitan untuk memahami bagaimana pandangan terhadap jemaat dalam kitab ini.
Hanya dua kali Yesus menyinggung mengenai kerajaan Allah didalam injil Yohanes
sehingga jika ingin menilik pola pemikiran injil berdasarkan kaitan jemaat
dengan kerajaan Allah agak sedikit sulit. Satu hal yang pasti bahwa Yesus di
dalam injil ini mengharapkan sesudah Dia mati dan bangkit akan menjadi sebuah
tantangan untuk orang-orang mengikuti Dia. Injil ini menjelaskan bahwa ide
jemaat yang dikemukakan adalah satu kesatuan tubuh tetapi bukan kesatuan
organisasi. Ada pola pemikiran mengenai ide kepemimpinan jemaat tetapi tanpa
ada ide tingkatan yang sifatnya hirarkis. Tidak ada yang lebih tinggi dan lebih
rendah dalam jemaat sesuai ide injil ini. Kepemimpinan yang dimaksud lebih
menuju pada bagaimana mengatur secara bersama-sama demi mencapai kebutuhan
bersama. Upacara keagamaan yang dibahas masih berkaitan dengan perjamuan kudus
dan baptisan.
·
Gereja Paulus di
Korintus.[14]
Gereja
ini termasuk dalam kategori gereja lokal dan juga berbeda penekanan dari pada
gereja dalam paham injil-injil. Injil-injil mulai meretas ide tetapi dalam
surat-surat Paulus ide mengenai jemaat sudah menjadi suatu realita konkret. Di
Korintus Paulus tinggal dan bekerja di rumah Akuila bahkan bengkel kerja Akuila
adalah tempat Paulus mewartakan injil. Sasaran pekabaran injil Paulus ialah
orang Yahudi, Yahudi Proselit, Orang Yunani yang beragama Yahudi, dan juga
orang Yunani lainya. Paulus membina hubungan dengan Titius Yustus dan juga
Gayus serta beberapa tokoh lainya. Komposisi jemaat di kota ini ialah terdiri
dari orang yang mampu dan yang tidak mampu. Masalah-masalah jemaat ialah
berkaitan dengan persembahan kepada berhala dan juga problem dalam merayakan
perjamuan (ekaristi) dimana terjadi diskriminasi antara yang kaya dan yang
miskin. Orang kaya melakukan perjamuan bersama orang miskin tetapi dalam
melakukanya jelas ada batasan dimana orang kaya makan lebih enak dan lebih
banyak sedangkan orang miskin hanya dilayani dengan makanan yang lebih sedikit.
Dari situlah muncul pemikiran bahwa makan bersama bukan untuk menjadi kenyang
tetapi sebagai lambang persatuan. Ide persatuan sangat penting ditengah situasi
kota ini yang penduduknya tidak homogen. Paulus pada bagaian selanjutnya
memberikan keterangan bahwa jemaat Korintus yang adalah jemaat lokal juga
sekaligus menjadi jemaat Allah dalam arti yang mendalam sebagai jemaat
universal. Dasar kehidupan bersama yang dibangun oleh jemaat di Korintus ialah
persaudaraan dimana orang datang untuk beribadah bukan untuk kebaktian semata
tetapi lebih dari itu untuk menjalin komunikasi iman sebagai sesama saudara
dalam jemaat. Persatuan jemaat sebagai saudara ini oleh Paulus didasarkan
kepada bersatunya anggota dalam Kristus sehingga ide satu tubuh menjadi
penting. Dalam jemaat ini terdapat Rasul, Nabi, Pengajar, dan Pimpinan.
Berkaitan dengan pimpinan Paulus mendapat status khusus sebagai seorang
pemimpin yang berwibawah.
·
Gereja di Filipi[15]
Jemaat
ini ialah jemaat yang hidup di Makedonia. Kota ini sendiri ialah kota yang
memiliki latar belakang sejarah yang cukup panjang menyangkut politik dan
perdagangan. Jemaat yang tinggal ditempat ini ialah jemaat yang membangun
hubungan mirip jemaat Korintus yaitu pole hubungan persaudaraan atau
kekeluargaan. Paulus dalam suratnya menyatakan bahwa ada ancaman daru luar
kepada jemaat ini tetapi sifatnya masih kabur. Mungkin yang bisa dipahami ialah
ancaman yang dialami ialah ancaman dari pihak-pihak yang anti terhadap
kekristenan. Paulus untuk jemaat ini memberiakan penekanan hidup agar berpegang
tegun pada Injil Kristus dan hidup sehati sepikir dalam satu kasih, satu jiwa,
dan satu tujuan tanp mencari kepentingan sendiri-sendiri. Namun ada tantangan
dari dalam jemaat sendiri yaitu kehidupan mereka yang tidak begitu rukun. Banyak
perbedaan pendapat yang muncul diantara jemaat yang ada. Bahkan ada juga yang
membawa injil yang melawan Paulus. Untuk itu Paulus benar-benar menekankan
persatuan dalam hidup bersama yang sifatnya tidak organisatoris. Dalam surat
ini ada beberapa pihak yang denga sukarela bekerja untuk memehuni kebutuhan
gerejani sebagai episkopos (penilik jemaat) dan diakonos. Tetapi mereka ini ada
bukan dalam suatu tataran organisasi dan dalam jabatan tertentu atas jemaat.
Mereka bukanlah pekerja struktural melainkan pekerja fungsional dalam pandangan
saya. Tugas yang dikerjakan ini menjadi tugas yang sifatnya spontan tidak
seperti sekarang yang sangat menekankan aspek struktural organisatoris.
·
Gereja di Efesus[16]
Jemaat
Efesus digambarkan sebagai tubuh Kristus yang patuh kepada Kristus sebagai
kepala. Gereja dikuasai oleh Kristus dan juga melalui kuasa-Nya gereja seluruh
alam semesta dikepalai-Nya. Terdapat sebuah orinentasi universal dimana ada
kesatuan antara orang-orang Yahudi dan Yunani bahkan secara eksklkusif mengarah
pada persoalan eklesilogis menyangkut posisi orang Yunani di dalam gereja. Pandangan
dalam surat ini sudah menyangkut kepada Kristus menjadi penyelamat gereja
sehingga gereja menjadi objek karya keselamatan Kristus sehingga jemaat tidak
lagi dipandang sebagai orang beriman. Ada konsepsi mengenai misteri Kristus
dimana ada ide bahwa orang-orang diluar Yahudi juga diselamatkan di dalam
gereja. Lebih lanjut ide mengenai tubuh Kristus pada bahasanya berkaitan dengan
gereja menjadi universal, tema bangunan dan pernikahan sebagai kesatuan,
perkembangan tubuh gereja, Kristus ialah kepala, dan adanya kesatuan tubuh
(antara Yahudi dan Yunani). Pemikiran semacam ini membawa dampak bagi jemaat
bahwa jemaat tidak lagi menjadi kumpulan orang tetapi merupakan perwujudan
konkrit dari karya keselamatan Allah. Gereja yang baru ini juga memiliki
implikasi lain yaitu adanya kelas jabatan yang ditetapkan oleh Kristus. Sifatnya
tetap fungsional tetapi sudah mulai diatur secara organisatoris sehingga
jabatan gerejani mulai mempunyai ketentuanya sendiri. Pada masa ini dapat
disebut sebagai masa transisi gereja dari gereja lokal menuju gereja universal.
Hubungan jemaat tidak lagi ditekankan pada hubungan dengan Kristus karena
mereka ialah tubuh Kristus sendiri di dalam gereja. Gereja yang baru ini
bersifat Kristologis dimana seluruh pusat ada pada Kristus sehingga implikasi
yang paling penting bahwa gereja tidak lagi menjadi persekutuan orang percaya
tetapi gereja sudah menjadi Kristus itu sendiri. Dampak positifnya ialah bahwa
gereja dan Kristus terikat dalam relasi yang amat konkret bahkan melalui gereja
kasih Kristus masuk ke dalam dunia. Lalu dampak negatifnya ialah eklesiologi
Efesus tidak lagi real karena gambaranya telalu ilahi sehingga terlalu bersifat
triumfalistis. Pusat gereja ada diluar jemaat sehingga seakan jemaat lokal
menjadi cabang dari pusat gereja. Akibatnya jemaat cenderung tertutup kepada dunia
diluar dari pusatnya dalam hal ini hanya kepada organisasi gereja saja.
Situasi
jemaat di Efesus tidak konkrit terlalu banyak pembahasan abstrak dalam jemaat
ini. Satu hal yang dapat disimpulkan bahwa jemaat Efesus terdiri dari komposisi
heterogen yang tidaklah akur dan tidak benar-benar bersatu. Kemudian sebagai
generasi penerus gereja di mana Paulus tidak lagi hidup jemaat ini memiliki
masalah terkait inkulturasi iman Kristen ke dalam budaya Asia. Gereja sibuk
melawan pandangan luar sehingga identitasnya mulai kabur karena tokok-tokoh
utama mengenai misi sudah tidak ada lagi.
Pembahasan
ini bagi saya ialah sebuah bentuk proses dimana seakan terjadi sebuah kasus
mata rantai yang terputus antara gereja yang masih merupakan ide dalam injil,
gereja Paulus, dan gereja universal Efesus. Masing-masing zaman gereja punya
problematika sendiri yang seakan mencari jalan sendiri. Akan tetapi pola utama
kekeluargaan dalam jemaat lokal harusnya dapat diteruskan tetapi sejarah
tersebut digantikan dengan sistem hirarki gereja yang mulai berkembang nantinya
pada abad II yang disebut dengan episkopal.[17] Ternyata
gereja yang dalam satu bingkai perjanjian baru pun mengalami begitu banyak
perubahan yang sangat fundamental sifatnya. Gereja ataupun jemaat dalam konteks
perjanjian baru dapat saya simpulkan telah memiliki kedudukan yang sangat
berbeda dengan jemaat mula-mula baik dalam peran maupun dalam eksistensi
teologisnya.
Inilah beberapa paparan singkat tentang gereja pada masa perjanjian baru dengan karakteristik jemaat yang khusus. Mungkin dapat dipahami sebagai jemaat perjanjian baru yang unik dengan kebutuhan yang benar-benar berbeda satu sama lain. Perkembangan yang dinamis dan juga konteks yang tegas berbeda ini, kemudian menjelaskan mengapa juga sampai sekarang gereja beribu wajahnya.
[1] Dr. Nico S. Dister, OFM., Teologi Sistematika 2: Ekonomi Keselamatan, (Kanisius:
Jogja, 2004), hal. 214.
[2] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 3: Ekelsiologi,
Eskatologi, Etika, (Gunung Mulia: Jakarta, 2006), hal.31-32.
[3] Wayne Jackson, “Identyfing
the Chruch of the New Testament” dalam http://www.christiancourier.com/articles/470-identifying-the-church-of-the-new-testament,
diunduh 18.35 WIB, 2 Februari 2012.
[4] Bobby
Algood, “Characteristic of A New Testament Church” Ebook Series. Hal. 5
[5] H. Berkhof, Sejarah Gereja, (Gunung Mulia: Jakarta,
2007), hal. 7.
[6] Ibid., Donald Guthrie, . . . . hal. 23-24.
[7] Ibid., Dr. Nico S. Dister, OFM, . . . .hal. 217.
[8] Bob Deffinbauhg, “What is a
New Testament Church?” dalam http://bible.org/seriespage/what-new-testament-church,
diunduh 18.40, 2 Februari 2012.
[9] Charles C. Ryrie, Teologi Dasar: Buku 2, (Andi: Jojga,
1993), hal. 184.
[10] Peter Eggleton, dalam “New
Testament Chruch” dalam http://www.therealchurch.com/articles/new_testament_church.html,
diunduh 20.12 WIB, 2 Februari 2012.
[11] Ibid., Charles C. Ryrie, . . . . hal. 186.
[12] Ibid., Donald Guthrie, . . . . hal. 22-43.
[13] Ibid., hal. 43-54.
[14] Tom Jacobs, SJ., Gereja Menurut Perjanjian Baru, (Kanisius:
Jojga, 1992), hal. 33-53.
[15] Ibid., hal.55-60.
[16] Ibid., hal.60-78.
[17] Fr. James Brenstein, “Which Came First: The
Church or The New Testament?” dalam http://www.protomartyr.org/first.html, diunduh 20.10 WIB, 2 Februari 2012.
Terima kasih, penjelasannya sangat baik dan mudah dimengerti. Ini semakin membuka wawasan saya dalam studi saya di fakultas Teologi. Sekali lagi terima kasih. Tuhan Sang Kepala Gereja memberkati.
BalasHapus