Selasa, 19 Juni 2012

Studi Eklesiologi tentang Gereja pada Zaman Perjanjian Baru



GEREJA DALAM PERJANJIAN BARU

Pada tulisan singkat ini saya akan memaparkan beberapa pokok-pokok pemikiran berkaitan dengan topik gereja menurut perjanjian baru. Pokok-pokok pemikiran ini akan saya kemukakan kembali sebagai sebuah bentuk inti sari pemikiran dari beberapa ahli tetang topik yang dimaksud sebelumnya. Pokok-pokok pemikiran ini juga akan saya telaah, bandingkan, serta saya analisa guna merenkonstruksi kembali pemikiran yang komprehensif mengenai gereja dalam bingkai perjanjian baru.
Perlu dicermati bahwa kajian terhadap gereja dalam topik ini mengindikasikan adanya suatu batasan tertentu yaitu dalam pandangan perjanjian baru. Maka dari itu pembahasan yang akan saya lakukan tidak akan meluas sampai kepada pembahasan perkembangan sejarah gereja setelah gereja dari dalam dunia perjanjian baru sendiri.
Pembahasan ini saya mulai dari sebuah titik dimana pokok pembicaraan berkaitan dengan sejak kapan gereja dalam PB mulai bereksistensi. Dimulainya gereja dalam konteks PB sendiri jika mengikuti pendapat Nico Syukur Dister OFM adalah sejak Yesus meletakan dasar dari pemilihan murid-murid sebagai cikal bakal gereja tanpa Yesus sendiri berniat untuk membuat gereja, jadi Yesus tidak pernah secara langsung membuat gereja tetapi sekaligus juga secara tidak langsung menimbulkan gereja dari seluruh karya-Nya.[1] Penekanan pekerjaan Yesus sebenarnya ialah pemberitaan kerajaan Allah dan bukan berkonsentrasi pada pembentukan gereja. Yesus dalam pandangan pra-paskah hanya sekedar berperan sebagai peletak dasar semata apa yang dikemudian hari disebut sebagai gereja. Namun pada pendekatan lain Guthrie menyatakan bahwa eksistensi gereja dalam konsep jemaat baru secara tidak langsung tumbuh saat ada tuntutan etis dari ajaran Yesus yang sifatnya tidak interimsethik (sementara), yang sebenarnya mensyaratkan adanya keberadaan jemaat untuk aktualisasi nilai etis tersebut yang berbeda dengan pegangan dunia.[2] Guthrie dengan ini menyangkal pendapat bahwa Yesus tidak tertarik dengan keberadaan jemaat baru. Meskipun demikian Guthrie secara terbuka menyatakan bahwa pemikiran mengenai komunitas etis yang dikemukakanya memang tidak dapat sepenuhnya akurat dan masih samar-sama tetapi setidaknya dapat membantah pendapat mengenai kekosongan Yesus dalam kaitan dengan mulainya gereja.
Pembahasan Guthire mengenai kelahiran gereja di akuinya ialah pada saat hari Pentakosta. Hal ini juga didukung oleh Wayne Jackson yang menyatakan bahwa secara historis dalam PB gereja ada setelah 50 hari kematian Yesus yaitu pada peristiwa Pentaskosta yang disaksikan oleh kitab Kisah Para Rasul, maka sejak itu gereja adalah ada.[3] Jackson memang juga menekankan kaitan dengan Yesus sebagai inti pemberitaan sesudah kematian-Nya. Lebih lanjut lagi menurut Algood ada tiga dasar pekabaran injil setelah peristiwa Pentakosta tersebut, yakni: Yesus telah disalibkan untuk dosa-dosa manusia. Dia telah mati dan dikuburkan. Tetapi hari ketiga bangkit lalu 40 hari kemudian naik ke surga dan duduk disebelah kanan Allah.[4] Begitu pula dengan pendapat Berkhof bahwasanya gereja lahir pada hari keturunan Roh Kudus pada pesta pentakosta. Ditandai dengan pesatnya pemberitaan dan penerimaan injil pada saat itu maka banyak terbentuklah kelompok kecil yang lebih mirip sebagai mazhab Yahudi.[5]
Sungguh menarik ada berbagai macam pendapat dan juga pendekatan dengan penekanan substansi yang juga berbeda. Dister menekankan bahwa kerajaan Allah menjadi tumpuan utama dari usaha Yesus semasa hidupnya bahkan tidak memikirkan mengenai gereja. Guthrie pun pada bagian pengantar tulisanya tentang Jemaat Kristen Mula-mula juga menenkankan konsep kerajaan Allah dan hubungannya dengan jemaat. Guhtrie secara tegas menyatakan bahwa ada dikotomi antara kerajaan Allah dengan jemaat. Jemaat memperoleh dasarnya di dalam kerajaan Allah tetapi jemaat bukanlah kerajaan Allah itu sendiri. Ungkapan terakhir Guthrie dalam pengantarnya ialah “Paling baik menganggap bahwa semua yang termasuk dalam kerajaan Allah termasuk dalam jemaat yang sempurna, tetapi bahwa semua yang termasuk dalam jemaat yang kelihatan belum tentu termasuk dalam kerajaan Allah.”[6] dari dua pembahasan ini, nampak bahwa sebenarnya baik Dister maupun Guthtrie menenkankan hal yang sama yaitu mengenai kerajaan Allah. Dister bahkan juga sependapat dengan Guthrie bahwa jemaat sadar mereka tidak identik dengan kerajaan Allah (basilea) tetapi dalam konteks perjanjian baru mereka merupakan ekklsia.[7] Tema kerajaan Allah ini penting untuk tetap dibahas karena saya melihat bahwa pada masa setelah kehidupan Yesus terjadi transposisi yang sangat mendasar dari pekerjaan pekabaran injil yang dilakukan murid-murid. Hal ini nampak dalam pembahasan Jackson dimana setelah Pentakosta terjadi pergeseran topik pemberitaan dimana justru Yesus yang diberitakan bukan lagi kerajaan Allah. Kerajaan Allah seakan masuk ke dalam diri Yesus melalui kematian-Nya sehingga untuk masuk ke dalam kerajaan Allah seakan-akan mensyaratkan agar orang pada masa itu untuk mengakui dan percaya kepada Yesus. Khususnya kepada kisah mengenai Yesus yang dikabarkan oleh rasul-rasul. Jadi dengan jelas terjadilah transposisi dari kerajaan Allah yang Yesus sendiri tekankan dalam ajaran-Nya menuju kepada cerita mengenai diri-Nya sendiri kepada orang banyak.
Apabila sedikit kembali membahas mengenai kelahiran gereja maka saya melihat ada kesepakatan secara umum bahwa gereja lahir saat Pentakosta terjadi. Pada prinsipnya gereja mulai hidup dari akar orang-orang Yahudi tetapi tidak lagi menekankan ajaran Yudaisme. Sehingga jika dikatakan bahwa sejak masa Yesus gereja sudah ada saya tidak sependapat. Menilik Dister Yesus hanya meletakan dasar bukan membuat gereja secara langsung lebih tepat ketimbang melihat kemungkinan bahwa benar Yesus tertarik membuat gereja. Alasan saya ialah karena Yesus sendiri datang ke dunia ini tidak sekalipun pernah bertujuan untuk menciptakan agama baru. Yesus tidak bisa dilepaskan begitu saja ke-Yahudia-an-Nya! Yesus tetap orang Yahudi dan memeluk agama Yahudi serta nampak dalam kisah injil-injil Yesus hanya menekankan perubahan dari pemikiran yang salah yang telah terpola pada masyarakat Yahudi. Pemikiran Dister agaknya lebih bisa diterima meskipun pada sisi lain ide Guthrie mengenai syarat komunitas etis juga masuk akal. Komunitas etis itu menurut saya lebih tepat jika juga dipahami dalam konsep berpikir Dister. Saya melihat sebenarnya ada kesamaan bahwa komunitas etis itu juga hanyalah implikasi artinya belum dibentuk dengan sengaja sejak awal. Sehingga aspek ini masih lebih cenderung mengarah pada kenyataan yang tidak juga direncanakan. Apabila benar Yesus tertarik tentu ajaran Yesus mengenai komunitas akan banyak muncul sebagai pembekalan yang diberikan. Yesus harus benar-benar memantapkan komunitas ini bila memang Dia tertarik kepadanya. Tidak mungkin Yesus bisa pergi dengan tenang sambil meninggalkan sesuatu yang diinginkan-Nya tetapi tidak dipersiapkan-Nya.
Satu poin penting yang saya dapat dari pemikiran-pemikiran para ahli diatas bahwa gereja tidak dapat dipisahkan dari Yesus. Deffinbauhg dalam artikelnya menyatakan bahwa fungsi gereja yang paling sederhana ialah untuk terus melanjutkan kehidupan Kristus di dunia.[8] Jika demikian maka saya melihat bahwa memang gereja dan Yesus tidak dapat dipisahkan begitu saja. Sebab subjek yang berperan penting di dalam gereja sendiri ialah Yesus. Hal ini juga nampak dalam kisah-kisah di dalam PB dimana Yesus terus menjadi pokok pemberitaan. Lebih lanjut dapat dipahami bahwa Gereja yang lahir dalam dunia PB secara tidak langsung merupakan dampak dari ajaran Yesus, sehingga tanpa adanya ajaran Yesus (yang dikemudian hari bergeser penekananya) tidak mungkin juga ada gereja. Teks perjanjian baru menjelaskan hal ini dimana jika dilihat dari pola cerita injil kemudian masuk kedalam surat-surat maka nampak jelas masih ada korelasi antara Yesus dengan gereja atau lebih tepat disebut sebagai jemaat.
Kini saya beralih untuk membahas suatu penekanan kepada bagaimana gereja dalam PB bertumbuh. Pola pemikiran mengenai ekklesia pada pembahasan sebelum akan menentukan bagaimana memahami wajah gereja sesungguhnya dalam bingkai PB. Kata ekklesia menjadi kunci utama dalam memahami bagaimana gereja dalam dunia PB mengalamai berbagai macam kejadian. Kata ini sendiri oleh Ryrie diartikan sebagai “dipanggil bersama” secara etimologi olehnya dianggap lebih tepat dan dari akar kata Yunaninya yang juga bermakna suatu perhimpunan dengan konotasi politik bukan keagamaan.[9] Ekklesia menjadi kata yang paling banyak dipakai dalam surat-surat Paulus, memilik arti luas berkaitan dengan jemaat lokal dan jemaat semesta.[10] Ide gereja lokal dan gereja semesta (gereja universal) banyak disinggung oleh ahli-ahli. Melalui pemahaman gereja lokal dan gereja universal inilah membantu untuk kemudian dapat memahami bagaimana gereja atau jemaat berkembang dalam PB khususnya berkaitan dengan jemaat di dalam surat-surat Paulus. Ryrie membedakan gereja lokal sebagai jemaat yang berada dalam suatu unit tertentu misalnya di kota tertentu, sedangkan gereja universal adalah ikatan semua orang percaya di surga dan di bumi.[11] Berangkat dari pemikira Ryrie saya kemudian merasa bahwa perlu untuk menelaah satu per satu gereja lokal di dalam PB untuk juga kemudian dapat melihat bagaimana ikatan mereka sebagai gereja universal. Pembahasan mengenai gereja lokal ini saya gabungkan dari beberapa tulisan ahli mengenai gereja-gereja lokal dalam PB khususnya gereja dalam pemikiran injil-injil juga bagaimana gereja dalam surat-surat Paulus.

 ·         Gereja dalam Injil Sinoptik[12]
Guthrie dalam tulisanya memandang bahwa gereja dalam injil-injil sinoptik menekankan akan rumusan hubungan antara jemaat denga kerajaan Allah sebagaimana yang dijelaskan pada bagian awal. Gagasan mengenai jemaat dalam injil sinoptik digambarkan sebagai Israel yang sejati dan murid-murid Yesus sebagai inti jemaat yang baru. Di dalam injil sinoptik sendiri hanya ada dua kali kata ekklesia muncul yaitu pada Matius 16:18, 18:17. Pada pasal 16:18 pembahasan yang dikemukakan ialah mengenai Petrus sebagai dasar pendirian jemaat meskipun tidak dapat dibesar-besarkan bahwa Yesus dengan ini menyatakan adanya suatu hirarki. Kemudian pada Matius 18 sebenarnya penekanana ajaran bukan kepada bentuk sebuah institusi tetapi menurut Guthrie lebih mengarah kepada ajaran supaya mengambil keputusan secara bersama-sama terkait kedisiplinan terhadap dosa. Dalam konteks kitab ini tidak sekalipun adanya suatu gagasan bahwa gereja ialah suatu bentuk lembaga penuh kuasa karena kekuasaan itu terletak pada Yesus sendiri bukan gereja atau jemaat. Amanat lain yang dibicarakan dalam injil ini ialah mengenai sifat universal bahwa murid-murid nantinya harus berasal dari semua bangsa dan harus diajarkan kepada mereka apa yang telah Yesus ajarkan. Jenis upacara  keagamaan yang di kemukakan dalam injil-injil ini ialah berkaitan dengan baptisan dan perjamuan kudus. Hal yang paling penting ialah pemikiran utama mengenai jemaat dalam injil-injil sinoptik yaitu Kristus merupakan pusat dalam jemaat yang akan datang.
·         Gagasan Jemaat dalam Injil Yohanes[13]
Terdapat kesulitan untuk memahami bagaimana pandangan terhadap jemaat dalam kitab ini. Hanya dua kali Yesus menyinggung mengenai kerajaan Allah didalam injil Yohanes sehingga jika ingin menilik pola pemikiran injil berdasarkan kaitan jemaat dengan kerajaan Allah agak sedikit sulit. Satu hal yang pasti bahwa Yesus di dalam injil ini mengharapkan sesudah Dia mati dan bangkit akan menjadi sebuah tantangan untuk orang-orang mengikuti Dia. Injil ini menjelaskan bahwa ide jemaat yang dikemukakan adalah satu kesatuan tubuh tetapi bukan kesatuan organisasi. Ada pola pemikiran mengenai ide kepemimpinan jemaat tetapi tanpa ada ide tingkatan yang sifatnya hirarkis. Tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah dalam jemaat sesuai ide injil ini. Kepemimpinan yang dimaksud lebih menuju pada bagaimana mengatur secara bersama-sama demi mencapai kebutuhan bersama. Upacara keagamaan yang dibahas masih berkaitan dengan perjamuan kudus dan baptisan.
·         Gereja Paulus di Korintus.[14]
Gereja ini termasuk dalam kategori gereja lokal dan juga berbeda penekanan dari pada gereja dalam paham injil-injil. Injil-injil mulai meretas ide tetapi dalam surat-surat Paulus ide mengenai jemaat sudah menjadi suatu realita konkret. Di Korintus Paulus tinggal dan bekerja di rumah Akuila bahkan bengkel kerja Akuila adalah tempat Paulus mewartakan injil. Sasaran pekabaran injil Paulus ialah orang Yahudi, Yahudi Proselit, Orang Yunani yang beragama Yahudi, dan juga orang Yunani lainya. Paulus membina hubungan dengan Titius Yustus dan juga Gayus serta beberapa tokoh lainya. Komposisi jemaat di kota ini ialah terdiri dari orang yang mampu dan yang tidak mampu. Masalah-masalah jemaat ialah berkaitan dengan persembahan kepada berhala dan juga problem dalam merayakan perjamuan (ekaristi) dimana terjadi diskriminasi antara yang kaya dan yang miskin. Orang kaya melakukan perjamuan bersama orang miskin tetapi dalam melakukanya jelas ada batasan dimana orang kaya makan lebih enak dan lebih banyak sedangkan orang miskin hanya dilayani dengan makanan yang lebih sedikit. Dari situlah muncul pemikiran bahwa makan bersama bukan untuk menjadi kenyang tetapi sebagai lambang persatuan. Ide persatuan sangat penting ditengah situasi kota ini yang penduduknya tidak homogen. Paulus pada bagaian selanjutnya memberikan keterangan bahwa jemaat Korintus yang adalah jemaat lokal juga sekaligus menjadi jemaat Allah dalam arti yang mendalam sebagai jemaat universal. Dasar kehidupan bersama yang dibangun oleh jemaat di Korintus ialah persaudaraan dimana orang datang untuk beribadah bukan untuk kebaktian semata tetapi lebih dari itu untuk menjalin komunikasi iman sebagai sesama saudara dalam jemaat. Persatuan jemaat sebagai saudara ini oleh Paulus didasarkan kepada bersatunya anggota dalam Kristus sehingga ide satu tubuh menjadi penting. Dalam jemaat ini terdapat Rasul, Nabi, Pengajar, dan Pimpinan. Berkaitan dengan pimpinan Paulus mendapat status khusus sebagai seorang pemimpin yang berwibawah.

·         Gereja di Filipi[15]
Jemaat ini ialah jemaat yang hidup di Makedonia. Kota ini sendiri ialah kota yang memiliki latar belakang sejarah yang cukup panjang menyangkut politik dan perdagangan. Jemaat yang tinggal ditempat ini ialah jemaat yang membangun hubungan mirip jemaat Korintus yaitu pole hubungan persaudaraan atau kekeluargaan. Paulus dalam suratnya menyatakan bahwa ada ancaman daru luar kepada jemaat ini tetapi sifatnya masih kabur. Mungkin yang bisa dipahami ialah ancaman yang dialami ialah ancaman dari pihak-pihak yang anti terhadap kekristenan. Paulus untuk jemaat ini memberiakan penekanan hidup agar berpegang tegun pada Injil Kristus dan hidup sehati sepikir dalam satu kasih, satu jiwa, dan satu tujuan tanp mencari kepentingan sendiri-sendiri. Namun ada tantangan dari dalam jemaat sendiri yaitu kehidupan mereka yang tidak begitu rukun. Banyak perbedaan pendapat yang muncul diantara jemaat yang ada. Bahkan ada juga yang membawa injil yang melawan Paulus. Untuk itu Paulus benar-benar menekankan persatuan dalam hidup bersama yang sifatnya tidak organisatoris. Dalam surat ini ada beberapa pihak yang denga sukarela bekerja untuk memehuni kebutuhan gerejani sebagai episkopos (penilik jemaat) dan diakonos. Tetapi mereka ini ada bukan dalam suatu tataran organisasi dan dalam jabatan tertentu atas jemaat. Mereka bukanlah pekerja struktural melainkan pekerja fungsional dalam pandangan saya. Tugas yang dikerjakan ini menjadi tugas yang sifatnya spontan tidak seperti sekarang yang sangat menekankan aspek struktural organisatoris.
·         Gereja di Efesus[16]
Jemaat Efesus digambarkan sebagai tubuh Kristus yang patuh kepada Kristus sebagai kepala. Gereja dikuasai oleh Kristus dan juga melalui kuasa-Nya gereja seluruh alam semesta dikepalai-Nya. Terdapat sebuah orinentasi universal dimana ada kesatuan antara orang-orang Yahudi dan Yunani bahkan secara eksklkusif mengarah pada persoalan eklesilogis menyangkut posisi orang Yunani di dalam gereja. Pandangan dalam surat ini sudah menyangkut kepada Kristus menjadi penyelamat gereja sehingga gereja menjadi objek karya keselamatan Kristus sehingga jemaat tidak lagi dipandang sebagai orang beriman. Ada konsepsi mengenai misteri Kristus dimana ada ide bahwa orang-orang diluar Yahudi juga diselamatkan di dalam gereja. Lebih lanjut ide mengenai tubuh Kristus pada bahasanya berkaitan dengan gereja menjadi universal, tema bangunan dan pernikahan sebagai kesatuan, perkembangan tubuh gereja, Kristus ialah kepala, dan adanya kesatuan tubuh (antara Yahudi dan Yunani). Pemikiran semacam ini membawa dampak bagi jemaat bahwa jemaat tidak lagi menjadi kumpulan orang tetapi merupakan perwujudan konkrit dari karya keselamatan Allah. Gereja yang baru ini juga memiliki implikasi lain yaitu adanya kelas jabatan yang ditetapkan oleh Kristus. Sifatnya tetap fungsional tetapi sudah mulai diatur secara organisatoris sehingga jabatan gerejani mulai mempunyai ketentuanya sendiri. Pada masa ini dapat disebut sebagai masa transisi gereja dari gereja lokal menuju gereja universal. Hubungan jemaat tidak lagi ditekankan pada hubungan dengan Kristus karena mereka ialah tubuh Kristus sendiri di dalam gereja. Gereja yang baru ini bersifat Kristologis dimana seluruh pusat ada pada Kristus sehingga implikasi yang paling penting bahwa gereja tidak lagi menjadi persekutuan orang percaya tetapi gereja sudah menjadi Kristus itu sendiri. Dampak positifnya ialah bahwa gereja dan Kristus terikat dalam relasi yang amat konkret bahkan melalui gereja kasih Kristus masuk ke dalam dunia. Lalu dampak negatifnya ialah eklesiologi Efesus tidak lagi real karena gambaranya telalu ilahi sehingga terlalu bersifat triumfalistis. Pusat gereja ada diluar jemaat sehingga seakan jemaat lokal menjadi cabang dari pusat gereja. Akibatnya jemaat cenderung tertutup kepada dunia diluar dari pusatnya dalam hal ini hanya kepada organisasi gereja saja.
Situasi jemaat di Efesus tidak konkrit terlalu banyak pembahasan abstrak dalam jemaat ini. Satu hal yang dapat disimpulkan bahwa jemaat Efesus terdiri dari komposisi heterogen yang tidaklah akur dan tidak benar-benar bersatu. Kemudian sebagai generasi penerus gereja di mana Paulus tidak lagi hidup jemaat ini memiliki masalah terkait inkulturasi iman Kristen ke dalam budaya Asia. Gereja sibuk melawan pandangan luar sehingga identitasnya mulai kabur karena tokok-tokoh utama mengenai misi sudah tidak ada lagi.

Pembahasan ini bagi saya ialah sebuah bentuk proses dimana seakan terjadi sebuah kasus mata rantai yang terputus antara gereja yang masih merupakan ide dalam injil, gereja Paulus, dan gereja universal Efesus. Masing-masing zaman gereja punya problematika sendiri yang seakan mencari jalan sendiri. Akan tetapi pola utama kekeluargaan dalam jemaat lokal harusnya dapat diteruskan tetapi sejarah tersebut digantikan dengan sistem hirarki gereja yang mulai berkembang nantinya pada abad II yang disebut dengan episkopal.[17] Ternyata gereja yang dalam satu bingkai perjanjian baru pun mengalami begitu banyak perubahan yang sangat fundamental sifatnya. Gereja ataupun jemaat dalam konteks perjanjian baru dapat saya simpulkan telah memiliki kedudukan yang sangat berbeda dengan jemaat mula-mula baik dalam peran maupun dalam eksistensi teologisnya.
Inilah beberapa paparan singkat tentang gereja pada masa perjanjian baru dengan karakteristik jemaat yang khusus. Mungkin dapat dipahami sebagai jemaat perjanjian baru yang unik dengan kebutuhan yang benar-benar berbeda satu sama lain. Perkembangan yang dinamis dan juga konteks yang tegas berbeda ini, kemudian menjelaskan mengapa juga sampai sekarang gereja beribu wajahnya.



[1] Dr. Nico S. Dister, OFM., Teologi Sistematika 2: Ekonomi Keselamatan, (Kanisius: Jogja, 2004), hal. 214.
[2] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 3: Ekelsiologi, Eskatologi, Etika, (Gunung Mulia: Jakarta, 2006), hal.31-32.
[3] Wayne Jackson, “Identyfing the Chruch of the New Testament” dalam http://www.christiancourier.com/articles/470-identifying-the-church-of-the-new-testament, diunduh 18.35 WIB, 2 Februari 2012.
[4] Bobby Algood, “Characteristic of A New Testament Church” Ebook Series. Hal. 5
[5] H. Berkhof, Sejarah Gereja, (Gunung Mulia: Jakarta, 2007), hal. 7.
[6] Ibid., Donald Guthrie, . . . . hal. 23-24.
[7] Ibid., Dr. Nico S. Dister, OFM, . . . .hal. 217.
[8] Bob Deffinbauhg, “What is a New Testament Church?” dalam http://bible.org/seriespage/what-new-testament-church, diunduh 18.40, 2 Februari 2012.
[9] Charles C. Ryrie, Teologi Dasar: Buku 2, (Andi: Jojga, 1993), hal. 184.
[10] Peter Eggleton, dalam “New Testament Chruch” dalam http://www.therealchurch.com/articles/new_testament_church.html, diunduh 20.12 WIB, 2 Februari 2012.
[11] Ibid., Charles C. Ryrie, . . . . hal. 186.
[12] Ibid., Donald Guthrie, . . . . hal. 22-43.
[13] Ibid., hal. 43-54.
[14] Tom Jacobs, SJ., Gereja Menurut Perjanjian Baru, (Kanisius: Jojga, 1992), hal. 33-53.
[15] Ibid., hal.55-60.
[16] Ibid., hal.60-78.
[17] Fr. James Brenstein, “Which Came First: The Church or The New Testament?” dalam http://www.protomartyr.org/first.html, diunduh 20.10 WIB, 2 Februari 2012.

Related Posts:

1 komentar:

  1. Terima kasih, penjelasannya sangat baik dan mudah dimengerti. Ini semakin membuka wawasan saya dalam studi saya di fakultas Teologi. Sekali lagi terima kasih. Tuhan Sang Kepala Gereja memberkati.

    BalasHapus

Popular Posts

Pages

Pengikut Blog

Profil Josua Maliogha

Diberdayakan oleh Blogger.

Daftar Negara Pengunjung

free counters

Sponsor