Berpikir secara kritis pada dewasa ini merupakan suatu kemampuan dan kecakapan yang wajib dimiliki. Suatu kemampuan dan kecakapan yang sangat membantu bagi seseorang untuk dapat menilai, memahami, menelaah, mengkaji, dan menyimpulkan berbagai fenomena dalam dimensi kehidupan yang serba kompleks. Tidak hanya serba kompleks, fenomena hidup ternyata juga multidimensional.
Berbagai lapisan fenomena dalam kehidupan memiliki konteksnya masing-masing yang khas. Kekhasan ini yang kemudian dapat menciptakan pandangan-pandangan yang juga serba majemuk. Nah, pandangan-pandangan tersebut yang lahir dalam bingkai waktu tertentu, yang juga dapat menjadi semacam common sense, ternyata merupakan produk autentik dari proses berpikir manusia. Pada titik itulah berpikir kritis memainkan perannya, yang signifikansinya sangat tergantung pada siapa yang menggunakanya.
Jika sebelumnya telah dibahas relevansi berpikir kritis dengan kehidupan, maka tentu perlu untuk diketahui bagaimana cara berpikir kritis. Secara sederhana, berpikir kritis dimulai dari sikap skeptis. Terus bertanya dengan menggunakan prinsip 5W-1H, untuk menemukan jawaban-jawaban atas keraguan akan fenomena-fenomena. Melalui cara ini akan tersingkap begitu banyak hal yang luar biasa dari sesuatu yang terlihat biasa-biasa saja. Akan tetapi, perlu untuk diperhatikan benar bahwa sikap skeptis (meragu-ragukan) adalah sikap skeptis dengan penuh tanggungjawab. Sikap skeptis yang dimaksud dalam tulisan ini bukanlah skeptis total radikal.
Skeptis total radikal dalam pandangan saya, memperlihatkan bahwa tidak ada lagi yang dapat dipegang, sebab semua telah diragukan tanpa ada satupun yang prinsipil. Sikap semacam ini seharusnya tidak digunakan dalam rangka berpikir kritis. Bukan tidak percaya secara membabi-buta, tetapi mencari dasar yang memenuhi aspek benar, baik, dan juga tepat. Sebab, jika memang tak ada lagi yang prinsipil didunia ini, apakah memang benar ada? sedangkan skeptis total radikal itu sendiri adalah sebuah prinsip. Bila tidak dapat dikatakan bahwa skeptis total radikal juga adalah sebuah dasar yang bisa dipegang. Jika demikian, maka secara langsung sikap ini menegasi dirinya sendiri. Maka, sudah barang tentu sikap ini tidak perlu untuk digunakan.
Langkah sederhana dalam rangka berpikir kritis telah dipaparkan diatas. Lalu, sekarang timbul suatu pertanyaan "sampai kapan seseorang terus bertanya?" Saya kira jawaban atas pertanyaan ini dapat dikatakan demikian "sampai mendapat jawaban yang tepat." Sebab, saya melihat bahwa kunci utama dalam berlakunya sebuah pemikiran sangat bergantung pada konteks sebagaimana yang telah dipaparkan pada bagian awal. Kemampuan seseorang untuk menafsirkan konteks secara benar, baik, akan membuatnya sampai pada kesimpulan yang tepat. Konteks sangat penting karena misalnya saja dalam suatu kasus yang mirip ditempat yang sama dalam kondisi dan waktu yang berbeda, memiliki probabilitas untuk menghasilkan kesimpulan yang bisa sama juga bisa berbeda. Apabila juga digunakan dengan metodologi yang sama sekalipun masih ada harapan terjadi anomali tertentu.
Lebih lanjut instrumen yang dapat digunakan dalam rangka berpikir kritis ialah menggunakan pola sintesa pemikiran, seperti dialektika ala Hegel. Lalu juga dapat memandang suatu fenomena secara lebih (paling tidak) objektif melalui prinsip falsifikasi Popper. Dalam kasus semacam ini pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh besar sangat membantu secara teknikal. Dekati suatu fenomena secara interdisipliner, secara ontologis, etimologis, dll. Peran filsafat ilmu untuk dipelajari dan digunakan menjadi penting. Poin utama yang ingin saya katakan ialah cobalah gunakan banyak perspektif untuk mendekati satu fenomena yang sama. Disitulah akan ditemukan beragam hasil yang berbeda juga, tergantung pada kacamata yang digunakan.
Akan tetapi ada suatu prinsip yang harus dipegang dalam rangka berpikir kritis. Hindari sikap berpretensi bahwa saya atau anda telah final juga telah memahami secara utuh. Pada kasus tertentu dapat dikatakan bersikap seakan-akan "paling tahu." Sangat diajurkan mengajukan hipotesis tetapi untuk diuji bukan berpretensi bahwa itulah final yang diharapkan. Sikap ini kadang melahirkan suatu argumen yang prematur. Argumen yang prematur tersebut masilah sangat terbatas dan lemah. Bahkan untuk menemukan sesuatu yang sangat prinsipil-esensial-fundamental, belum sampai pada tahap itu.
Minimal kini telah ada beberapa hal yang mesti dihindari dalam rangka berpikir kritis: skeptis total radikal, berprentensi bahwa hipotesis adalah final. Kemudian juga dapat saya katakan bahwa dalam rangka berpikir kritis juga banyak hal yang bisa kita lakukan. Sebagai simpul pembahasan saya dalam katakan dalam sebuah simplisitas pernyataan bahwa gunakan perspektif yang beragam dalam segala pendekatan yang interdisiplin. Demikian opini ini saya susun sambil menikmati beberapa batang racun hidup dan segelas benda langit yang ditempatkan pada sebuah kemasan kaca.
Semoga berguna.
Kamis, 13 Desember 2012
Related Posts:
DUA (2) Kehidupan ini adalah setapak yang penuh ketidakpastian entah kemana. Kadang setapak itu lebar dan penuh dengan hamparan rumput nan menyejukan. Ka… Read More
Berpikir Kritis: Apa dan Bagaimana? Sebuah OpiniBerpikir secara kritis pada dewasa ini merupakan suatu kemampuan dan kecakapan yang wajib dimiliki. Suatu kemampuan dan kecakapan yang sangat membantu… Read More
Hidup itu Simple tapi SusahBelajar dari matahari. Itulah langkah awal yang dapat menjadi kunci utama untuk memahami rangakaian kata sederhana tapi rumit (judul). Hidup itu Sim… Read More
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Popular Posts
-
Kritik Aparatus Teks Guna memeriksa teks ini saya menggunakan data aparatus pada Alkita...
-
“Bukan Yesus yang Saya Kenal” : Philip Yancey Bagian Satu: Siapa Dia o Yesus yang saya kira saya kenal. Pertama kali Yancey m...
-
GEREJA DALAM PERJANJIAN BARU Pada tulisan singkat ini saya akan memaparkan beberapa pokok-pokok pemikiran berkaitan dengan topik ...
-
Bagaimana anda menghubungkan antara visi, misi, kharisma, dan strategi-strategi dalam konkteks kepemimpinan yang melayani? Dalam ko...
-
Berpikir secara kritis pada dewasa ini merupakan suatu kemampuan dan kecakapan yang wajib dimiliki. Suatu kemampuan dan kecakapan yang sanga...
-
“Namanya juga baru balajar!”, ialah sebuah ungkapan apologetika dalam hemat saya. Sebuah ungkapan pembelaan dan pembenaran akan sesuatu y...
-
Dalam cerita tradisi secara biblis kita tentu tidak asing lagi dengan cerita tentang Yusuf yang handal dalam menafsirkan mimpi bahkan menj...
-
Sebelum pembaca sekalian membaca hasil tafsir sosio-historis ini, sangat saya anjurkan untuk terlebih dahulu untuk membaca tulisan mengenai...
-
Pengantar Jawaban atas pertanyaan seperti pada judul tulisan ini oleh sebagian orang dipercayai telah disediakan dengan memadai oleh ke...
-
Manusia merupakan insan dengan tiga pembentuk formasi hidup. Memiliki raga, jiwa, dan roh yang masing-masing aspeknya punya kebutuhan m...
Pages
Pengikut Blog
Profil Josua Maliogha
Blog Archive
- Desember 2014 (2)
- Mei 2014 (1)
- Februari 2014 (2)
- Mei 2013 (1)
- Desember 2012 (1)
- Oktober 2012 (1)
- Juli 2012 (2)
- Juni 2012 (2)
- Juli 2011 (1)
- Januari 2011 (2)
Diberdayakan oleh Blogger.
nah itu, pendekatan interdisiplin itu yang penting, jadi liat dari berbagai sudut pandang :)
BalasHapusgood writing jo... keep your spirit to writing and writing :)
Izinkan sy tuk sering2 maen2 ke sini ya to'oBRO!! :D
BalasHapus