Bagaimana
anda menghubungkan antara visi, misi, kharisma, dan strategi-strategi dalam
konkteks kepemimpinan yang melayani?
Dalam konteks kepemimpinan yang
melayani (servant leadership),
kepemimpinan semacam ini juga disebut sebagai kepemimpinan yang transformatif.
Kepemimpinan yang melayani atau transformatif ini ialah kepemimpinan yang
visioner, kharismatik, dan kepemimpinan yang baru.
[1] Visioner artinya memiliki visi, dalam hal ini visi yang dimaksud ialah sesuatu yang masih abstrak tetapi ingin diwujudkan atau direalisasikan. Visi ini merupakan dasar utama sebagai motor penggerak arah ke mana tujuan pemimpin dan apa yang menjadi target seorang pemimpin. Karena Nanus seperti dikutip oleh Jony O. H. Menyatakan bahwa seorang pemimpin harus pertama kali mengembangkan semangat dan mental positif untuk mencapai harapan yang dikehendaki.[2] Jadi visi ialah harapan dan cita-cita yang harus dan akan diwujudkan. Lalu kemudian misi ialah langkah konkret dalam bentuk rencana yang digunakan untuk mewujud-nyatakan visi yang masih abstrak. Misi merupakan strategi atau perencanaan yang sudah lebih konkret dibanding visi. Jadi kedua hal ini tidak terpisahkan. Ketika seorang pemimpin telah memiliki visi maka dia harus membuat rencana-rencana guna merealisasikan visi/ harapanya. Misalnya, seorang pemimpin berharap anggota organisasinya bagus dalam hal administrasi maka untuk mewujudkan itu dia harus merencanakan untuk melakukan pelatihan administrasi kepada anggotanya. Kemudian kharisma, ialah salah satu aspek yang sangat penting bagi seorang pemimpin. Kharisma ialah anugerah pemberian Allah kepada manusia bahkan untuk setiap manusia. Pdt. Dr. Ayub Rano menyatakan bahwa faktor yang menjadikan munculnya pemimpin yang kharismatis ialah karena kondisi krisis sosial yang secara objektif dialami oleh orang banyak dan bukan buatan tangan untuk melestarikan kekuasaan.[3] Jadi kepemimpinan yang kharismatis tidak dapat dibuat-buat karena itu merupakan anugerah Allah. Apalagi untuk tujuan yang tidak benar. Tuhan Allah lewat kharisma yang unik yang masing-masing orang miliki memberikan tugas secara khusus bagi tiap orang untuk melakukan kebenaran. Dalam artian kharisma yang merupakan anugerah Allah bagi setiap orang merupakan pelengkap bagi seseorang untuk melakukan sesuatu secara unik dan berbeda sesuai anugerah yang Allah berikan. Tidak terkecuali dalam kepemimpinan, anugerah Allah bagi seorang pemimpin juga ada. Anugerah ini menjadi pelengkap seorang pemimpin dalam melaksanakan kepemimpinannya. Hal ini menjadi nilai tambah yang Tuhan berikan bagi setiap orang. Tetapi anugerah ini sekali lagi bukan untuk melestarikan kuasa tetapi untuk melayani orang banyak guna mengkongkretisasikan kasih Allah kepada dunia. Misalnya anugerah kharisma Soekarno dalam berpidato. Beliau sangat dihormati dalam gaya pidatonya bahkan pidato beliau mampu membangkitkan gairah pendengarnya saat beliau berpidato. Hal yang sama belum tentu dapat dilakukan oleh kebanyakan orang hal inilah yang menjadi kharisma Soekarno sebagai anugerah Allah yang unik bagi setiap orang. Lalu strategi-strategi yang saya gunakan ialah mengutip pendapat McFayden yaitu saya harus memiliki energy (kekuatan), intelligence (intelegensi/ kecerdasan), imagination (imajinasi), love (kasih).[4] Kekuatan itu berada dalam fisik, emosi, psikologi, dan spiritual. Intelegensi berkaitan dengan konsep, emosi, konteks, dan sosial. Kecerdasan ganda diperlukan untuk melihat berbagai peluang, tantangan, dan keputusan. Imajinasi diperlukan untuk membayangkan arah kepada bentuk perubahan-perubahan. Lalu kasih merupakan syarat mutlak seorang pemimpin dalam memimpin. Karena tanpa kasih seorang pemimpin tidak akan mampu memimpin dan melayani orang lain.[5] Kasih ini telah ditelandakan oleh Tuhan Yesus dalam pelayanan di bumi. Strategi konkrit yang McFayden tawarkan ialah; dalam melayani orang lain pemimpin harus mampu melihat kekurangan anggota sambil menemukan masa depan lewat potensi yang mereka miliki.[6] Kemudian pemimpin dapat berhenti sejenak untuk merefleksikan pandangan-pandangannya. Lalu seorang pemimpin harus berusaha utuk melayani dan cara yang dapat dilakukan yaitu: pertama kepemimpinan harus disadari sebagai bentuk panggilan Tuhan, kedua kepemimpinan di jalankan dengan dasar mutu relasi, ketiga kepemimpinan harus kontekstual, keempat ilmu-ilmu dan teori kepemimpinan dapat memberikan kontribusi bagi perspektif kepemimpinan. Kelima ialah belajar untuk meningkatkan potensi yang telah dimiliki seorang pemimpin.[7] Dari beberapa ideal teori diatas saya mengambil benang merahnya untuk kepemimpinan yang melayani sebagai berikut: Sebagai pemimpin saya harus memiliki visi yang berguna untuk menjadi cita-cita awal saya sehingga saya tahu kemana arah kepemimpinan saya. Kemudian saya akan mengembangkan misi-misi saya untuk mewujudkan visi saya yang masih abstrak. Dalam upaya mewujudkan visi-misi itu semangat melayani orang lain yang menjadi landasan berpikir bukan kekuasaan. Hal ini menjadi semangat utama sembari mengimplementasikan potensi atau anugerah yang telah Allah berikan kepada saya sebagai seorang pemimpin dengan ciri khas unik. Untuk melayani strategi yang saya gunakan ialah menggunakan kekuatan baik secara fisik, maupun membangun kekuatan secara emosional, psikologis, dan spiritual dengan orang yang saya pimpin melalui relasi yang bermutu. Saya harus mampu menciptakan konsep untuk menghadapi tantangan, perubahan, dan melihat konteks dalam mengambil keputusan. Meski Allah telah memberikan saya potensi lewat kharisma tetapi saya harus tetap belajar untuk mengembangkan potensi yang saya miliki karena apabila saya tidak menggunakanya Allah dapat menarik kembali kharisma itu. Cara mengembangkan diri dapat dengan belajar teori-teori kepemimpinan guna meningkatkan kapasistas saya sebagai seorang pemimpin yang melayani.
[1] Visioner artinya memiliki visi, dalam hal ini visi yang dimaksud ialah sesuatu yang masih abstrak tetapi ingin diwujudkan atau direalisasikan. Visi ini merupakan dasar utama sebagai motor penggerak arah ke mana tujuan pemimpin dan apa yang menjadi target seorang pemimpin. Karena Nanus seperti dikutip oleh Jony O. H. Menyatakan bahwa seorang pemimpin harus pertama kali mengembangkan semangat dan mental positif untuk mencapai harapan yang dikehendaki.[2] Jadi visi ialah harapan dan cita-cita yang harus dan akan diwujudkan. Lalu kemudian misi ialah langkah konkret dalam bentuk rencana yang digunakan untuk mewujud-nyatakan visi yang masih abstrak. Misi merupakan strategi atau perencanaan yang sudah lebih konkret dibanding visi. Jadi kedua hal ini tidak terpisahkan. Ketika seorang pemimpin telah memiliki visi maka dia harus membuat rencana-rencana guna merealisasikan visi/ harapanya. Misalnya, seorang pemimpin berharap anggota organisasinya bagus dalam hal administrasi maka untuk mewujudkan itu dia harus merencanakan untuk melakukan pelatihan administrasi kepada anggotanya. Kemudian kharisma, ialah salah satu aspek yang sangat penting bagi seorang pemimpin. Kharisma ialah anugerah pemberian Allah kepada manusia bahkan untuk setiap manusia. Pdt. Dr. Ayub Rano menyatakan bahwa faktor yang menjadikan munculnya pemimpin yang kharismatis ialah karena kondisi krisis sosial yang secara objektif dialami oleh orang banyak dan bukan buatan tangan untuk melestarikan kekuasaan.[3] Jadi kepemimpinan yang kharismatis tidak dapat dibuat-buat karena itu merupakan anugerah Allah. Apalagi untuk tujuan yang tidak benar. Tuhan Allah lewat kharisma yang unik yang masing-masing orang miliki memberikan tugas secara khusus bagi tiap orang untuk melakukan kebenaran. Dalam artian kharisma yang merupakan anugerah Allah bagi setiap orang merupakan pelengkap bagi seseorang untuk melakukan sesuatu secara unik dan berbeda sesuai anugerah yang Allah berikan. Tidak terkecuali dalam kepemimpinan, anugerah Allah bagi seorang pemimpin juga ada. Anugerah ini menjadi pelengkap seorang pemimpin dalam melaksanakan kepemimpinannya. Hal ini menjadi nilai tambah yang Tuhan berikan bagi setiap orang. Tetapi anugerah ini sekali lagi bukan untuk melestarikan kuasa tetapi untuk melayani orang banyak guna mengkongkretisasikan kasih Allah kepada dunia. Misalnya anugerah kharisma Soekarno dalam berpidato. Beliau sangat dihormati dalam gaya pidatonya bahkan pidato beliau mampu membangkitkan gairah pendengarnya saat beliau berpidato. Hal yang sama belum tentu dapat dilakukan oleh kebanyakan orang hal inilah yang menjadi kharisma Soekarno sebagai anugerah Allah yang unik bagi setiap orang. Lalu strategi-strategi yang saya gunakan ialah mengutip pendapat McFayden yaitu saya harus memiliki energy (kekuatan), intelligence (intelegensi/ kecerdasan), imagination (imajinasi), love (kasih).[4] Kekuatan itu berada dalam fisik, emosi, psikologi, dan spiritual. Intelegensi berkaitan dengan konsep, emosi, konteks, dan sosial. Kecerdasan ganda diperlukan untuk melihat berbagai peluang, tantangan, dan keputusan. Imajinasi diperlukan untuk membayangkan arah kepada bentuk perubahan-perubahan. Lalu kasih merupakan syarat mutlak seorang pemimpin dalam memimpin. Karena tanpa kasih seorang pemimpin tidak akan mampu memimpin dan melayani orang lain.[5] Kasih ini telah ditelandakan oleh Tuhan Yesus dalam pelayanan di bumi. Strategi konkrit yang McFayden tawarkan ialah; dalam melayani orang lain pemimpin harus mampu melihat kekurangan anggota sambil menemukan masa depan lewat potensi yang mereka miliki.[6] Kemudian pemimpin dapat berhenti sejenak untuk merefleksikan pandangan-pandangannya. Lalu seorang pemimpin harus berusaha utuk melayani dan cara yang dapat dilakukan yaitu: pertama kepemimpinan harus disadari sebagai bentuk panggilan Tuhan, kedua kepemimpinan di jalankan dengan dasar mutu relasi, ketiga kepemimpinan harus kontekstual, keempat ilmu-ilmu dan teori kepemimpinan dapat memberikan kontribusi bagi perspektif kepemimpinan. Kelima ialah belajar untuk meningkatkan potensi yang telah dimiliki seorang pemimpin.[7] Dari beberapa ideal teori diatas saya mengambil benang merahnya untuk kepemimpinan yang melayani sebagai berikut: Sebagai pemimpin saya harus memiliki visi yang berguna untuk menjadi cita-cita awal saya sehingga saya tahu kemana arah kepemimpinan saya. Kemudian saya akan mengembangkan misi-misi saya untuk mewujudkan visi saya yang masih abstrak. Dalam upaya mewujudkan visi-misi itu semangat melayani orang lain yang menjadi landasan berpikir bukan kekuasaan. Hal ini menjadi semangat utama sembari mengimplementasikan potensi atau anugerah yang telah Allah berikan kepada saya sebagai seorang pemimpin dengan ciri khas unik. Untuk melayani strategi yang saya gunakan ialah menggunakan kekuatan baik secara fisik, maupun membangun kekuatan secara emosional, psikologis, dan spiritual dengan orang yang saya pimpin melalui relasi yang bermutu. Saya harus mampu menciptakan konsep untuk menghadapi tantangan, perubahan, dan melihat konteks dalam mengambil keputusan. Meski Allah telah memberikan saya potensi lewat kharisma tetapi saya harus tetap belajar untuk mengembangkan potensi yang saya miliki karena apabila saya tidak menggunakanya Allah dapat menarik kembali kharisma itu. Cara mengembangkan diri dapat dengan belajar teori-teori kepemimpinan guna meningkatkan kapasistas saya sebagai seorang pemimpin yang melayani.
2. Bagaimana
anda menjelaskan hubungan antara manajemen gereja dan budaya organisasi dengan
pembaharuan/ perubahan/ perkembangan/ pembangunan gereja?
Budaya organisasi ialah fondasi
dari organisasi dan merupakan nilai atau kebiasan kerja seluruh anggotanya yang
dibakukan dan diterima sebagai standar perilaku kerja dalam rangka pencapaian
sasaran dan hasil yang telah direncanakan terlebih dahulu.[8] Sedangkan
sebagaimana yang saya pahami manejemen gereja ialah tata kelola gereja baik
secara administratif dan birokratif maupun pada implentasi kegiatan pelayanan
gerejawi.[9] Di
dalam gereja sudah tentu ada organisasi. Dan dalam organisasi tentu ada
birokrasi yang mengatur baik struktur, fungsional, dan mekanisme kerja. Kemudian
untuk menjalankan aspek birokrasi itu organisasi gereja tentu bekerja secara
administratif. Jadi semua aspek ini tidak bisa terlepas bahkan merupakan satu
kesatuan utuh dalam sebuah organisasi. Birokrasi dapat berjalan baik apabila
administarinya benar. Namun dalam menjalankan kedua hal tersebut sebuah jaminan
paten yang mengarahkan implikasinya keduanya ialah kebudayaan dalam organisasi
tersebut. Bila budaya kerja organisasi tersebut buruk, lesu, tidak memiliki
visi yang jelas, bahkan tidak di jalankan dengan penuh tanggun jawab maka sudah
pasti manejemen organisasi itu amburadul dan implikasinya target yang
dicanangkan tidak akan terpenuhi. Hal ini disebabkan oleh budaya organisasi
merupakan landasan fundamental yang mempengaruhi cara berpikir, bersikap, dan
perilaku seseorang dalam organisasi.[10]
Jadi bila budayanya buruk maka manejemenya pasti buruk. Dalam hal pembangunan/
perkembangan gereja, organisasi gereja butuh budaya organisasi yang benar yang
sesuai dengan perspektif Kristiani dengan melandaskan upaya gereja adalah untuk
menjawab panggilan gereja yaitu bersaksi, bersekutu, melayani, dan
penata-layanan. Jadi penata-layanan gereja merupakan panggilan Allah kepada
kepada manusia sehingga budaya organisasi yang di berlakukan harus penuh rasa
tanggung jawab kepada Allah dan jemaat. Sehingga budaya yang baik serta benar
ini akan mempengaruhi birokrasi dan administrasi gereja dalam usaha kepada
perubahan dan pembangunan gereja kearah yang lebih baik. Jadi kesimpulanya
budayakan budaya organisasi gereja yang Kristiani sehingga manejemen gereja
dapat benar dijalankan agar kemudian memperoleh hasil yang baik guna membangun
gereja. Karena tanpa budaya organisasi gereja yang benar, jangan harap
manejemen gereja akan berjalan benar pula, serta jangan pernah bermimpi bahwa
gereja akan mengalami perubahan positif.
3. Jelaskan
bagaimana strategi-strategi/ kiat-kiat kepemimpinan Kristen dan atau gereja
ditengah arus globalisasi dan dalam konteks masyarakat majemuk Indonesia!
Kiat-kiat yang dapat digunakan
menurut saya mengacu pada dua pendapat yaitu pertama mengenai kiat servant leadership atau kepemimpinan
melayani/ transformatif dalam konteks global yaitu sebagai pemimpin yang
tanggap terhadap perubahan harus mampu menyeseuikan diri dengan keadaan perubahan
itu sendiri jika tidak maka kepemimpinan itu akan tamat. Karena pemiliha
strategi yang tepat untuk seorang pemimpin diharuskan ditengah situasi yang
terus berubah agar dapat bertahan didalam perubahan yang kian cepat. Dan
variabel dalam kepemimpinan transformatif yang dapat adaptif dengan perubahan
jaman yaitu; visi sebagai dasar akan tujuan apa yang ingin dicapai, pengaruh
dalam relasi pemimpin dengan orang yang dipimpin, kredibilitas penting karena
bila pemimpin tidak kredibel dalam suatu bidang maka dia akan dianggap remeh
oleh orang yang dipimpin, kepercayaan dalam kerja sama antara pemimpin dengan
yang dipimpin termasuk mempercayakan delegasi guna pemberdayaan orang yang
dipimpin, lalu pelayanan kepada orang lain dengan begitu pemimpin tidak berorientasi
pada hasil tetapi pada menitik beratkan proses. Itulah pemimpin yang efektif.
Itulah kiat-kiat seorang pemimpin yang tanggap terhadap perubahan. Variabel ini
dapat mendukung seorang pemimping Kristen untuk tidak tenggelam dalam arus
perkembangan karena pemimpin semacam ini bersifat transformatif. Lalu dalam
konteks masyarakat majemuk Indonesia saya mengikuti teori Notohamidjojo bahwa
beragam kebudayaan di Indonesia menjadikan bangsa ini majemuk. Jadi titik
beratnya ada pada kebudayaan sebagai faktor utama perbedaan. Untuk mengatasi
hal ini maka seorang pemimpin Kristen harus melakukan transformasi kepada
kebudayaan yaitu dengan acuan melakukan adaptasi tetapi bukan kompromi (iman
Kristen di tanamkan berkaitan dengan konteks budaya Indonesia, iman Kristen
tidak menolak, tidak melecehkan, tidak dualistik terhadap budaya Indonesia,
tetapi menerima dan memperbaharuinya). Kemudian berikutnya menguasai dan
memelihara hasil transformasi budaya yang pemimpin Kristen lakukan dengan
maksud mengarahkan pada tujuan tertentu.[11]
Misalnya memberikan makna religius Kristiani pada nasi tumpeng sebagai lambang
hubungan manusia dengan Allah (manusia dasar dan Allah pada ujung kerucut).
Dalam kaitan dengan masyarakat Notohanidjojo berpendapat bahwa yang harus
dilakukan adalah pelayanan harus meluaskan visi dan misi bangsa kepada
Internasionalisme (menurut saya masa sekarang hal ini termaktub dalam
globalisasi), pelayanan memperhitungkan diferensiasi dan pluralisme, pelayanan
harus turut menyusun kekuatan sosial untuk menghindari dominasi, membendung
sekularisme, sejalan dengan perjuangan kemanusiaan penuh, dan dasar masyarakat
(politik, ekonomi, sosial, budaya) harus menuju kepada kreatif-konstruktif dan
tidak eksklusif Kristen.[12]
Ideal-ideal ini dapat menjadi pegangan bagi seorang pemimpin Kristen, karena
benar apabila dalam konteks masyarakat majemuk Indonesia seorang pemimpin
Kristen bersikap eksklusif maka kepemimpinanya tidak akan bisa bersesuaian
dengan keadaan sosial yang menuntut untuk bertoleransi dengan segala perbedaan.
4. Pengelolahan
SDM Gereja adalah kunci perubahan dan pembangunan gereja, jelaskan mengapa!
Jemaat atau warga gereja ialah
sumber utama atau sumber daya (human
resources) yang merupakan bagian penting dalam manejemen/ pengelolahan
sumber daya baik mereka yang merupakan warga jemaat yang telah terdaftar secara
administratif maupun jemaat simpatisan.[13]
SDM gereja dapat diberdayakan dengan melakukan banyak program positif melalui
kegiatan pekabaran injil dalam bentuk kegiatan diakonia dan kegaitan sosial
untuk umum.[14]
Seperti membuat seminar, sarasehan, pelatihan kegiatan usaha, memberikan
kepercayaan kepada jemaat untuk memimpin ibadah pemahaman alkitab, dll. Tujuan
semua kegiatan ini untuk meningkatkan kesejaterahaan jemaat, terlibat dalam
pelayanan, mengembangkan wawasan, peningkatan keterampilan pelayanan, dan
kaderisasi.[15]
Tujuan ini sudah sangat jelas karena bertujuan untuk memajukan SDM gereja yang
merupakan esensi dari gereja sendiri. Gereja ialah orang-orangnya maka untuk
membawa gereja kepada pembangunan yang lebih baik, maka SDM gereja harus
dikelola dengan baik. Karena yang berubah ialah kualiatas manusianya dalam hal
ini jemaat bukan bangunan gerejanya. Karena tidak mungkin gereja dapat
berkembang apabila jemaat tidak diberdayakan dalam penata-layanan yang baik.
Kunci kemajuan gereja ada pada jemaat sehingga apabila jemaat tidak di
berdayakan dalam pentala-layanan yang benar maka gereja akan stagnan dan bisa
saja justru semakin mundur perkembanganya.
[1] John O. Haryono, “Strategi
& Servant Leadership” dalam bahan bacaan Mata Kuliah Teologi Kepemimpinan
& Manejemen, (Fakultas Teologi UKSW, 2011), 5.
[2] Ibid., 9.
[3] Pdt. Dr. Ayub Rano, Kepemimpinan Kharismatis: Tinjauan Teologi-Etis atas Kepemimpinan
Kharismatis Soekarno, (Jakarta: Gunung Mulia, 2006), 75-76.
[4] Kenneth J. McFayden,
“Strategic Leadership: Facing our losses, Finding our future” dalam bahan bacaan
Mata Kuliah Teologi Kepemimpinan dan Manejemen, (Fakultas Teologi UKSW, 2011),
98.
[5] Ibid.
[6] Ibid., 99.
[8] Retnowati, “Budaya Organisasi” dalam hardcopy slide Materi Kuliah Teologi
Kepemimpinan dan Manejemen, (Fakultas Teologi UKSW), 1.
[9] Pdt. Andreas U, Wiyono, S.Th, D.Min, Drs. Sukardi,
M.Si, “Manejemen Gereja: dasar teologis dan implementasi praktisnya” dalam
Bahan bacaan Mata
Kuliah Teologi Kepemimpinan & Manejemen, (Fakultas Teologi UKSW, 2011),55-57.
[10] Ibid., Retnowati, . . . .
[11] ________ , “Kepemimpinan dan Pembinaan Pemimpin:
Notohamidjojo memorial lecture” dalam bahan bacaan Mata Kuliah Teologi
Kepemimpinan & Manejemen, (Fakultas Teologi UKSW, 2011),36.
[13] Ibid., Pdt.
Andreas U, Wiyono, S.Th, D.Min, Drs. Sukardi, M.Si, . . . . 70-71.
[14] Ibid.
[15] Ibid., 72.
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. 2 Tim 3:16
BalasHapus