“Bukan Yesus yang Saya Kenal” :
Philip Yancey
Bagian
Satu: Siapa Dia
o Yesus yang saya kira saya kenal.
Pertama kali
Yancey mengenal sosok Yesus ialah ketika dia masih anak-anak, lewat pengajaran
sekolah minggu mengenai Yesus. Pada masa berikutnya Yancey mengenal sosok Yesus
dari berbagai pandangan, dari Charles Dicken, Sekolah Alkitab, dan bahkan dari
sisi Teologi Pembebasan. Dari beberapa kepelbagaian pemikiran tentang Yesus
inilah Yancey kemudian mulai bertanya-tanya tentang hal-hal yang berkaitan
dengan sosok Yesus.
Tahun 1971
dimulai ketika Yancey menonton sebuh film The
Gospel According to St. Matthew, Yancey mulai menyadari bahwa ada sebuah
pemahaman lain mengenai Yesus yang berbeda dengan apa yang sebelumnya ia
pahami. Yancey kemudian menyadari bahwa Yesus ialah sosok revolusioner yang
menolak segala kemasyuhran dan ukuran sukses tradisional. Setelah hal itu
terjadi ditambah dengan munculnya buku So
long, Sweet Jesus karya Bill Miliken, Yancey mulai mengajukan pertanyaan
mendasar yaitu; Siapa sebenarnya Kristus
ini? dan bahkan Yancey mulai ragu-ragu terhadap mengapa ia percaya Yesus. Dimata
Yancey, Yesus ialah sosok yang punya pengaruh besar atas dunia sampai mampu
membagi sejarah dunia menjadi dua (sebelum Yesus lahir dan sesudah Yesus
lahir). Selanjutnya Yancey berpendapat bahwa “apa pendapat saya tentang-Nya dan
apa tindakan saya berdasarkan pendapat itu akan menentukan nasib saya dalam
kekekalan”. Analogi dari Karl Barth kemudian menjadi landasan pemikiran Yancey
bahwa manusia sekarang berada di depan jendela yang hanya dapat melihat Yesus
dari berbagai macam sumber tetapi sejauh apapun kita yang hidup dua ribu tahun
setelah Yesus tidak akan pernah melihat Yesus dalam daging. Dari situlah Yancey
mulai melihat benang merah puisi William Blake, yang menekankan bahwa manusia
memandang Yesus tidak jauh dari hidung mereka sendiri. Hal ini kemudian menjadi
pikiran utama mengapa Yesus di gambarkan dalam banyak konteks. Yancey
berpendapat bahwa secara sekuler petunjuk mengenai “siapa Yesus” sangat minim,
karena bagian biografi yang penting dari Yesus untuk kebanyakan orang di jaman
sekarang justru yang di lewatkan oleh para penulis injil. Yancey juga
menyatakan bahwa dengan banyaknya literatur mengenai penggambaran tentang Yesus
maka justru semua citra yang mendekati kenyataan memudar menjadi gambaran yang
kabur dan tidak jelas. Pada bagian akhir bab ini satu pikiran Barbara Tuchman
menjadi landasan Yancey dalam menegaskan kesalahan ketika mencoba memahami
Yesus yaitu secara kilas maju, bagi Yancey guna menilik Yesus haruslah melihat
Yesus dalam daging sebagaimana adanya dia pada masanya.
o Kelahiran: Planet yang di
datangi.
Masa kelahiran
Yesus bagi pandangan sekarang ialah masa yang penuh dengan sentimen kebahagiaan
dan sukacita. Akan tetapi Yancey tersadar bahwa secara logis keadaan sukacita
semacam ini sungguh sulit seratus persen terjadi. Tidak mungkin bagi Maria dan
Yusuf bergembira-ria sedangkan secara sosial Yesus akan dipandang aib karena
Maria hamil di luar pernikahan. Banyak keraguan muncul dari Maria dan Yusuf
sendiri tetapi pada akhirnya mereka tetap berjalan terus dengan keadaan Maria.
Bahkan Yancey berpikir bahwa perginya Yusuf ke desa kecil Betlehem ialah cara
untuk melindungi Maria dari malu akan janinya. Padahal Yusuf bisa mengikuti
sensus di Nazaret. Hal penting dalam pandangan Yancey ialah Maria tidak
sekalipun mencoba melakukan aborsi terhadap janin dari Roh yang dikandungnya.
Maria ialah orang pertama yang menerima Yesus tanpa peduli kepada harga yang
harus dibayarnya. Pada masa setelah lahir, Yesus menjadi sumber masalah bahkan
sekalipun sejak Dia bayi. Cerita-cerita dalam injil yang memberikan gambaran
tentang kesulitan serta bahaya yang di hadapi Maria dan bahkan Yesus menyiratkan
pandangan Yancey bahwa sejak awal Yesus telah menjadi sosok yang sungguh
kontroversial dalam kisah-Nya sendiri. Yancey mengemukakan tiga hal yang dapat
di pelajari dari Allah melalui kisah kelahiran Yesus, yaitu: rendah hati (tidak datang dalam
kemegahan kerajaan dunia tetapi mengambil tempat rendah), bisa didekati (melalui Yesus hubungan manusia dengan Allah terjalin
tanpa ada rasa takut), penampilan sangat
sederhana (tidak hanya memperhatikan kaum yang kaya raya melulu). Berkaitan
dengan saat masa dewasa, kehidupan Yesus terpengaruh oleh dunia kemiskinan yang
mungkin lekat dengan fenomena sosial yang sering di dapatinya. Namun Yesus
sendiri secara ironis di kucilkan oleh kaum dari kota asalnya, bahkan ada yang
menanggap Yesus sebagai ancaman, orang yang tidak waras, dan kerasukan setan.
Secara umum Yesus terlihat menjadi sosok yang bagi saya seakan-akan di tolak
dunia.
o Latar belakang: Akar dan tanah
Yahudi.
Satu kenyataan
penting yang Yancey kemukakan mengenai Yesus ialah fakta yang tidak terpisah
dari Yesus sendiri ialah bahwa Dia orang Yahudi. Dengan demikian Yesus tidak
dapat di lepaskan dari segala konteks ke-Yahudian-Nya. Yesus harus di pandang
secara dekat sesuai Yesus sebagai seorang Yahudi di abad pertama dalam segala
aspek berkaitan dengan identitas Yahudi masa itu. Yesus dalam silsilahnya
merupakan pewaris darah Abraham dan Daud sang raja termasyur orang Yahudi.
Yesus tumbuh pada masa di mana orang Yahudi mulai kembali merasakan kebanggaan
Yahudi, hal ini nampak dalam nama Yesus yang berasal dari Yosua (arti: Ia yang
menyelamatkan) dan nama ini ialah nama yang lazim serta umum digunakan.
Kelaziman semacam ini membuat orang Yahudi memahami bahwa Yesus ialah manusia
biasa. Yesus benar-benar tumbuh dalam konteks Yahudi, Dia disunat, beribadah di
Sinagoge dan Bait Suci, dan bahkan mengikuti kebiasaan Yahudi. Yesus hidup
dalam suasana revolusi dan banyak mesias muncul di sana-sini. Tetapi ketika nyata bahwa Yesus ialah mesias
namun tidak memenuhi ekspetasi orang Yahudi akan konsep mesianik, maka
implikasinya ialah justru terjadi perpecahan dan pemisahan antara orang Kristen
dan Yahudi pada masa setelah-Nya.
Yesus lahir
pada masa Herodes Agung, Yesus besar di wilayah Galilea tempat dimana
tokoh-tokoh revolusiner berasal. Dalam masyarakat Yahudi terdapat kaum-kaum
yang mendominasi kehidupan seperti Farisi, Saduki, Eseni, Zelot, tetapi secara
umum tujuan mereka ialah berkaitan dengan dasar semangat Yahudi. Gerakan ini ada
yang separatis dan kolaborator, tetapi Yesus secara radikal membawa orang
Yahudi dari tekanan Herodes ke Kerajaan Allah.
o Pencobaan: Buka kartu di Padang
gurun.
Tugas resmi
pertama Yesus ialah pergi ke Padang gurun untuk menghadapi pencobaan iblis.
John Milton menggambarkan bahwa pencobaan ini memberi kesempatan kepada iblis
untuk menguji Yesus bahwa apakah dia benar mampu menjadi manusia.Yancey
berpikir pada dasarnya tidak ada letak kesalahan dari tiga cobaan iblis kepada
Yesus. Apabila ditinjau lebih jauh hal semacam itu harus menjadi wajar sebagai
sebuah hak istimewa di dalam diri seorang Mesias. Keistimewaan memang
sifat-sifat yang diharapakan ada pada Mesias. Tetapi kemudian Yancey
menjelaskan bahwa Yesus secara sadar menolak segala anjuran iblis karena
pertama-tama Dia ingin hanya Allah yang disembah lalu kedua ialah berkaitan
dengan kekuasaan-Nya dikungkung demi tetap terjaganya kebebasan manusia.
Malcolm Muggeridge bahkan menilai bila Yesus setuju untuk memilih kuasa yang
iblis tawarkan tentu pekerjaan Yesus dalam menegakan Kerajaan Allah jauh lebih
muda. Yancey pada bagian akhir menambahkan bahwa dengan mempertaruhkan reputasi
Allah, Yesus memberikan penghormatan besar kepada kebebasan manusia. Yesus
tidak suka memaksakan kehendak tetapi Dia lebih cenderung membeberkan akibat
dari sebuah pilihan lalu melemparkanya kembali kepada pihak lainya. Ini adalah
bentuk konsekuensi dari pengekangan diri Yesus.
o Profil: Apa yang bisa terlihat
oleh saya?
Yancey
memiliki pendapat unik mengenai Yesus yaitu banyak fakta tentang Yesus yang
didapat sejak sekolah minggu tetapi sebagai sebuah pribadi Yesus terasa jauh
dan dua dimensi. Akan tetapi secara tradisional Yesus terlanjur digambarkan
sebagai sosok tampan dan serba sempurna bagi ukuran seorang manusia. Padahal
Yancey sendiri mengidentifikasi sosok Yesus lewat bantuan PL karena injil tidak
menyediakan profil utuh tampang Yesus, ditemukan bahwa Yesus mungkin tidak
setampan dan tampil dengan sempurna seperti tradisi yang melekat pada-Nya.
Yancey tidak menggunakan ukuran tampilan fisik Yesus untuk memahami kepribadian
Yesus. Yancey menemukan bahwa Yesus didalam injil ialah pribadi yang
kharismatis, suka memuji, membela orang lain, dan akrab dengan orang di sekeliling-Nya.
Mary Gordon bahkan menyatakan bahwa Yesus sangat peka terhadap anak-anak dan
wanita. Yesus bukanlah sosok yang menggunakan jadwal tertentu dalam hidup,
bahkan Bonhoeffer menyatakan bahwa Yesus ialah milik orang lain karena dengan
bebas dia membiarkan orang lain mengganggu waktunya. Yancey kemudian memberikan
suatu pemahaman menarik bahwa Yesus walaupun dalam inkarnasinya dengan Allah
tetap hidup di bawah hukum alam, bahkan Ia hidup dan mati dengan hukum bumi.
Selanjutnya mengenai kemampuan mukjizat Yesus, hal inilah yang pertam kali
menjadikan Yesus terkenal diantara komunitasnya. Kemampuan penyembuhan ini
mengisi sepertiga dari injil yang dimana terdapat dua hal penting terkait kisah
penyembuhan, yaitu: pertama, Yesus menyembuhkan sebagai reaksi spontan akan
kebutuhan orang lain (tidak pernah sekalipun Dia menolak permintaan tolong
langsung). Kedua, Yesus tidak pernah menggembar-gemborkan kemampuan-Nya.
Gerakan Yesus dan pengikut-Nya ialah gerakan tanpa basis dan bahkan berkelana
tanpa strategi dari satu kota ke kota lain. Hidup berpindah-pindah semacam ini
wajar bagi seorang guru/ Rabi seperti
Yesus. Secara finansial Yesus hidup pas-pasan dan pada beberapa kesempatan
ditopang oleh beberap orang yang disembukan-Nya. Dalam mengajar Yesus banyak
menggunakan pertanyaan dan perumpamaan, tetapi dengan pola yang sangat berbeda
dengan guru keliling lain (Yesus menunjukan kebenaran kepada diri-Nya). Dalam
kaitan dengan murid-Nya Yesus terkesan aneh ketika memilih orang-orang kecil
yang dianggap tidak dapat diandalkan dan bukan memilih kaum cendikiawan yang
mungkin lebih menjamin sebagai murid-Nya. Meski demikian degil mereka, Yesus
menurut Yancey memiliki alasan mengapa memilih orang-orang dari kaum
biasa-biasa saja seperti mereka. Alasan pertama ialah untuk menyertai Dia,
dimana mereka menjadi keluarga dan sahabat Yesus. Alasan kedua ialah untuk
diutus-Nya, merekalah yang dipersiapkan Yesus untuk melanjutlkan karya-Nya
karena Yesus sadar waktu-Nya di bumi hanya sementara.
Bagian
Dua: Mengapa dia datang?
o Ucapan bahagia: Beruntunglah
mereka yang tidak beruntung.
Yancey membuka
bab ini dengan menyatakan bahwa tanpa mengerti ajaran-Nya tidak mungkin untuk
mengerti Yesus. Untuk memahami Yesus,Yancey mencoba menilik ajaran Yesus
tentang ucapan bahagia yang pada dasanya bersifat kontradiktif. Secara umum
Yancey simpulkan bahwa Yesus menyatakan beruntunglah mereka yang tidak
beruntung. Yancey membagi ucapan bahagia Yesus ke dalam tiga tingkat: janji
upah, keterbalikan besar, dan realitas psikologi.Yesus memberikan ucapan
bahagia dalam sudut pandang seorang realis yang menempatkan cara hidup dunia
yang memang lekat sebagai sebuah realita: kemiskinan, dukacita,
kelemah-lembutan, rasa lapar untuk kebenaran, bahkan sampai pada penganiayaan.
Yesus sendiri pada akhirnya menjadi khotbah yang hidup dari ucapan bahagia
tersebut.
o Pemberitaan: Khotbah yang
menusuk.
Yesus
memperluas hukum. Khotbah dibukit bagi Yancey mula-mula merupakan target
ideal-ideal yang oleh dirinya sendiri diragukan apakah mampu untuk dijalankan.
Melalui khotbah di bukit, Yesus seakan-akan dengan anehnya memutar balikan
segala hal menjadi sangat kontradiktif. Bagaimana mungkin orang Yahudi mampu
mengasihi musuh yang membunuh keluarga mereka? Kemudian Yesus mengungkapkan
prinsip anti kekerasan dengan konsep memberikan pipi lain saat di tampar.
Yancey menyatakan bahwa khotbah ini meminta manusia secara tidak langsung untuk
hidup sempurna tetapi ironisnya tidak ada manusia yang sempurna. Banyak
pandangan mengenai makna khotbah ini tetapi Yancey sendiri setelah menilik
banyak pendapat ahli pun masih sama, berpikir bahwa khotbah Yesus ini terlalu
ideal untuk dilaksanakan. Tetapi pada bagian akhir bab Yancey menunjukan bahwa
Yesus memberikan khotbah ini bukan semata-mata untuk mengkerdilkan manusia
dihadapan kesempurnaan tetapi Yesus menyatakan adanya kesamaan antara setiap
manusia dengan rata dihadapan Allah melalui kasih karunia Allah sendiri. Bahkan
sistem legalisasi hukum ala Farisi tidak ada gunya bagi Yesus tanpa kasih
karunia Allah sebagaimana dikemukakan Yancey.
o Misi: Sebuah Revolusi anugerah.
Yesus pada bab
ini ditunjukan sebagai sosok yang meretas segala stigma negatif dan yang
dianggap tabu oleh kaum saleh Yahudi.Yesus dekat dengan orang berdosa, pelacur,
pemungut cukai, bahkan makan dengan orang kusta. Sungguh suatu perbuatan najis
dan berani yang membuat orang Farisi semakin tidak suka dengan cara yang Yesus
perbuat. Yesus secara tidak langsung telah menjadi tokoh revolusioner yang
mengalihkan penekanan kesucian Allah yang eksklusif ke bentuk belas kasihan
Allah yang inklusif. Cerita mengenai Yesus yang selalu lari kepada Allah
melalui doa tatkala hatinya sedih menunjukan bahwa Yesus mengajarkan Allah
ialah pengasih yang mendekat bukan sekedar Sang Penguasa mutlak yang tidak
bergerak.
o Mukjizat: Kilasan Supernatural.
Yancey
mencatat bahwa kurang lebih tiga puluh enam kali Yesus melakukan mujizat.
Tetapi catatan penting lain yaitu Yesus sering meminta agar mukjizat itu tidak
perlu di diberitahukan kepada orang lain. Meskipun pada jamanYesus ternyata
menurut Yancey orang-orang cukup skeptis terhadap mukjizat dengan menganggap
hal itu semacam praktik sihir. Mukjizat pertama yang dilakukan Yesus ialah
mukjizat yang unik sekaligus yang hanya sekali itu saja dilakukanya lalu
kemudian meminta agar apa yang Dia lakukan dirahasiakan. C.S. Lewis menyatakan
bahwa mukjizat Yesus tidak berlawanan dengan hukum alam, itu hanya bagian
penciptaan skala kecil dan dengan kecepatan berbeda. Dalam kaitan antara mukjizat penyembuhan dan
penyakit Yesus menolak pemahaman bahwa penyakit ialah karena dosa tertentu.
Lalu dalam melakukan mukjizat Yesus lebih banyak melakukan penyembuhan, yang
kemudian menjadi refleksi mengapa orang-orang sibuk meminta penyembuhan sakit
jasmani sedangkan mereka tidak sekali pun menangkap ajaran Yesus yang berkaitan
dengan sakit rohani (dosa). Mukjizat besar Yesus lainya ialah bahwa Dia memberi
makan kurang lebih lima ribu orang padahal dia masih dalam suasan berduka
karena Yohanes Pembaptis di penggal. Yancey menyimpulkan bahwa mukjizat Yesus
yang terdiri dari penyembuhan dan membangkitkan orang mati sama sekali tidak
menyelesaikan masalah kesakitan di bumi karena memang bukan itu tujuan utama
Yesus. Kenyataan supernatural yang Yesus tunjukan semata-mata bertujuan untuk
menyatakan bahwa Allah pada waktu-Nya akan memperbaiki semua kesalahan di bumi.
o Kematian: Minggu terakhir.
Injil
menempatkan kematian sebagai pusat misteri Yesus, hanya dua injil yang memuat
kelahiran-Nya, dan injil hanya menulis serba sedikit informasi tentang
kebangkitan Yesus. Tetapi kisah menjelang kematian Yesus mendapat porsi yang
lebih detail dalam injil. Yancey mengemukakan pola urutan kejadian dimana
sebelum Yesus disalib yaitu mulai dari Yesus dielu-elukan di Yerusalem,
perjamuan terakhir, pengkhiatan, pengadilan, dan terakhir kalvari. Dalam
keadaan penuh derita pun Yesus menjadi sosok yang mampu mendoakan orang-orang
agar di ampuni. Yesus saat mengutip mazmur saat di kayu salib bagi Yancey
mengeksperisakan perasaan seakan ditinggalkan. Yesus melalui salib menyatakan
Allah mampu menanggalkan kekuasaan-Nya demi kasih.
o Kebangkitan: Sebuah pagi yang tak
bisa di percaya.
Yancey
mengutip Paulus mengenai pentingya kebangkitan Yesus yang jika tidak terjadi
maka pekabaran injil sia-sia adanya. Saksi pertama kebangkitan Yesus ialah kaum
wanita kemudian hal penting lainya ialah injil tidak memberikan kebangkitan
Yesus dalam kerangka apologetika. Yesus menampakan diri setelah bangkit
sebanyak 12 kali dan hanya menunjukan diri pada orang dekat-Nya saja.
Implikasinya ialah Yesus ingin mereka memilih untuk percaya kepada-Nya atau
tidak sama sekali dan pada kenyataanya mereka kemudian hari menjadi percaya
tanpa ragu sedikit pun. Bahkan Yakobus saudara Yesus menurut Yosefus menjadi
orang percaya yang kemudian memimpin gereja di Yerusalem. Kebangkitan ini
menyiratkan pemenuhan dari penghargaan Allah atas kebebasan manusia dengan
kematian dan kemenangan saat Yesus bangkit.
Bagian
Tiga: Apa yang Ia tinggalkan
o Kenaikan: Langit biru kosong.
Yesus tidak
pernah meninggalkan semua karya-karya yang Dia kerjakan dalam bentuk tulisan
atau buku. Yesus lebih banyak dikenang lewat ajaranya, Dia tidak pernah
sekalipun membangun dinasti, tidak banyak hal yang Dia tinggalkan kecuali jejak
ajaran. Yesus telah menyatakan kepada murid-murid bahwa mereka akan menjadi
lebih berguna bila Yesus pergi. Butuh waktu enam minggu bagi murid-murid untuk
sadar makna perkataan Yesus tadi. Melalui pekerjaan murid-murid inilah tubuh
lain Kristus terbentuk yang kemudian meneruskan inkarnasi Allah, yaitu Gereja.
Gereja menjadi tempat Allah hidup pasca Kristus.
Pada
pembahasan lain Yancey mengemukakan bahwa dengan naik ke sorga sebenrnya Yesus
beresiko untuk dilupakan, tetapi Yesus dalam kisah di Matius telah menyadari
hal tersebut bahkan telah memberikan perumpamaan yang sesuai tentang
kepergiaan-Nya. Pada bagian akhir mengutip O’Connor, Yancey berpendapat bahwa
dengan sifat kasih Allah Kristus menanggung luka gereja seperti Ia menanggung
luka penyaliban.
o Kerajaan: Gandum ditengah
ilalang.
Sebagai Mesias
yang tidak pernah secara verbal menyatakan bahwa Dia Mesias, disebabkan karena
apabila dia mengaku secara luas bahwa diri-Nya Mesias maka hanya akan ada
pertumpahan darah dan korban sia-sia dari geraka revolusi Yahudi. Yesus menjadi
sosok yang tidak diharapkan dari pewujudnyataan kerajaan Allah dibumi oleh
bangsa Yahudi. Mereka mengharapkan kemegahan fisik dari kerajaan Mesias. Tetapi
Yesus yang tidak pernah menggunkan azas pemaksaan membawa kerajaan Allah yang
hidup ditengah-tengah manusia. Gereja pada masa sekarang ialah pihak yang harus
menumbuhkan kerajaan Allah di dunia.
o Perbedaan yang di buat-Nya.
Yesus
menjadikan orang tidak nyaman bersama Dia, hanya kaum yang membuat orang lain
tidak merasa nyamanlah yang merasa nyaman berada dekat Yesus.Ia terkenal sukar
di ramalkan, dikendalikan, dan bahkan di mengerti. Yancey menyimpulkan Yesus ke
dalam beberapa konsepsi yaitu:
Ø Sahabat
orang berdosa yang Tidak Berdosa.
Ø Allah
dan Manusia.
Ø Potret
Allah.
Ø Kekasih.
Ø Potret
Kemanusiaan.
Pada bagian terakhir Yancey menyebut Yesus sebagai
Penyembuh yang Terluka. Mengutip Yesaya, Yancey menyatakan bahwa karena
luka-luka Hamba itulah manusia disembuhkan.
0 komentar:
Posting Komentar