Selasa, 03 Juli 2012

Intisari pemikiran Philip Yancey dalam buku "Bukan Yesus yang Saya Kenal."


“Bukan Yesus yang Saya Kenal” : Philip Yancey

Bagian Satu: Siapa Dia
o   Yesus yang saya kira saya kenal.
Pertama kali Yancey mengenal sosok Yesus ialah ketika dia masih anak-anak, lewat pengajaran sekolah minggu mengenai Yesus. Pada masa berikutnya Yancey mengenal sosok Yesus dari berbagai pandangan, dari Charles Dicken, Sekolah Alkitab, dan bahkan dari sisi Teologi Pembebasan. Dari beberapa kepelbagaian pemikiran tentang Yesus inilah Yancey kemudian mulai bertanya-tanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan sosok Yesus.
Tahun 1971 dimulai ketika Yancey menonton sebuh film The Gospel According to St. Matthew, Yancey mulai menyadari bahwa ada sebuah pemahaman lain mengenai Yesus yang berbeda dengan apa yang sebelumnya ia pahami. Yancey kemudian menyadari bahwa Yesus ialah sosok revolusioner yang menolak segala kemasyuhran dan ukuran sukses tradisional. Setelah hal itu terjadi ditambah dengan munculnya buku So long, Sweet Jesus karya Bill Miliken, Yancey mulai mengajukan pertanyaan mendasar yaitu; Siapa sebenarnya Kristus ini? dan bahkan Yancey mulai ragu-ragu terhadap mengapa ia percaya Yesus. Dimata Yancey, Yesus ialah sosok yang punya pengaruh besar atas dunia sampai mampu membagi sejarah dunia menjadi dua (sebelum Yesus lahir dan sesudah Yesus lahir). Selanjutnya Yancey berpendapat bahwa “apa pendapat saya tentang-Nya dan apa tindakan saya berdasarkan pendapat itu akan menentukan nasib saya dalam kekekalan”. Analogi dari Karl Barth kemudian menjadi landasan pemikiran Yancey bahwa manusia sekarang berada di depan jendela yang hanya dapat melihat Yesus dari berbagai macam sumber tetapi sejauh apapun kita yang hidup dua ribu tahun setelah Yesus tidak akan pernah melihat Yesus dalam daging. Dari situlah Yancey mulai melihat benang merah puisi William Blake, yang menekankan bahwa manusia memandang Yesus tidak jauh dari hidung mereka sendiri. Hal ini kemudian menjadi pikiran utama mengapa Yesus di gambarkan dalam banyak konteks. Yancey berpendapat bahwa secara sekuler petunjuk mengenai “siapa Yesus” sangat minim, karena bagian biografi yang penting dari Yesus untuk kebanyakan orang di jaman sekarang justru yang di lewatkan oleh para penulis injil. Yancey juga menyatakan bahwa dengan banyaknya literatur mengenai penggambaran tentang Yesus maka justru semua citra yang mendekati kenyataan memudar menjadi gambaran yang kabur dan tidak jelas. Pada bagian akhir bab ini satu pikiran Barbara Tuchman menjadi landasan Yancey dalam menegaskan kesalahan ketika mencoba memahami Yesus yaitu secara kilas maju, bagi Yancey guna menilik Yesus haruslah melihat Yesus dalam daging sebagaimana adanya dia pada masanya.
o   Kelahiran: Planet yang di datangi.
Masa kelahiran Yesus bagi pandangan sekarang ialah masa yang penuh dengan sentimen kebahagiaan dan sukacita. Akan tetapi Yancey tersadar bahwa secara logis keadaan sukacita semacam ini sungguh sulit seratus persen terjadi. Tidak mungkin bagi Maria dan Yusuf bergembira-ria sedangkan secara sosial Yesus akan dipandang aib karena Maria hamil di luar pernikahan. Banyak keraguan muncul dari Maria dan Yusuf sendiri tetapi pada akhirnya mereka tetap berjalan terus dengan keadaan Maria. Bahkan Yancey berpikir bahwa perginya Yusuf ke desa kecil Betlehem ialah cara untuk melindungi Maria dari malu akan janinya. Padahal Yusuf bisa mengikuti sensus di Nazaret. Hal penting dalam pandangan Yancey ialah Maria tidak sekalipun mencoba melakukan aborsi terhadap janin dari Roh yang dikandungnya. Maria ialah orang pertama yang menerima Yesus tanpa peduli kepada harga yang harus dibayarnya. Pada masa setelah lahir, Yesus menjadi sumber masalah bahkan sekalipun sejak Dia bayi. Cerita-cerita dalam injil yang memberikan gambaran tentang kesulitan serta bahaya yang di hadapi Maria dan bahkan Yesus menyiratkan pandangan Yancey bahwa sejak awal Yesus telah menjadi sosok yang sungguh kontroversial dalam kisah-Nya sendiri. Yancey mengemukakan tiga hal yang dapat di pelajari dari Allah melalui kisah kelahiran Yesus, yaitu: rendah hati (tidak datang dalam kemegahan kerajaan dunia tetapi mengambil tempat rendah), bisa didekati (melalui Yesus hubungan manusia dengan Allah terjalin tanpa ada rasa takut), penampilan sangat sederhana (tidak hanya memperhatikan kaum yang kaya raya melulu). Berkaitan dengan saat masa dewasa, kehidupan Yesus terpengaruh oleh dunia kemiskinan yang mungkin lekat dengan fenomena sosial yang sering di dapatinya. Namun Yesus sendiri secara ironis di kucilkan oleh kaum dari kota asalnya, bahkan ada yang menanggap Yesus sebagai ancaman, orang yang tidak waras, dan kerasukan setan. Secara umum Yesus terlihat menjadi sosok yang bagi saya seakan-akan di tolak dunia.
o   Latar belakang: Akar dan tanah Yahudi.
Satu kenyataan penting yang Yancey kemukakan mengenai Yesus ialah fakta yang tidak terpisah dari Yesus sendiri ialah bahwa Dia orang Yahudi. Dengan demikian Yesus tidak dapat di lepaskan dari segala konteks ke-Yahudian-Nya. Yesus harus di pandang secara dekat sesuai Yesus sebagai seorang Yahudi di abad pertama dalam segala aspek berkaitan dengan identitas Yahudi masa itu. Yesus dalam silsilahnya merupakan pewaris darah Abraham dan Daud sang raja termasyur orang Yahudi. Yesus tumbuh pada masa di mana orang Yahudi mulai kembali merasakan kebanggaan Yahudi, hal ini nampak dalam nama Yesus yang berasal dari Yosua (arti: Ia yang menyelamatkan) dan nama ini ialah nama yang lazim serta umum digunakan. Kelaziman semacam ini membuat orang Yahudi memahami bahwa Yesus ialah manusia biasa. Yesus benar-benar tumbuh dalam konteks Yahudi, Dia disunat, beribadah di Sinagoge dan Bait Suci, dan bahkan mengikuti kebiasaan Yahudi. Yesus hidup dalam suasana revolusi dan banyak mesias muncul di sana-sini.  Tetapi ketika nyata bahwa Yesus ialah mesias namun tidak memenuhi ekspetasi orang Yahudi akan konsep mesianik, maka implikasinya ialah justru terjadi perpecahan dan pemisahan antara orang Kristen dan Yahudi pada masa setelah-Nya.
Yesus lahir pada masa Herodes Agung, Yesus besar di wilayah Galilea tempat dimana tokoh-tokoh revolusiner berasal. Dalam masyarakat Yahudi terdapat kaum-kaum yang mendominasi kehidupan seperti Farisi, Saduki, Eseni, Zelot, tetapi secara umum tujuan mereka ialah berkaitan dengan dasar semangat Yahudi. Gerakan ini ada yang separatis dan kolaborator, tetapi Yesus secara radikal membawa orang Yahudi dari tekanan Herodes ke Kerajaan Allah.
o   Pencobaan: Buka kartu di Padang gurun.
Tugas resmi pertama Yesus ialah pergi ke Padang gurun untuk menghadapi pencobaan iblis. John Milton menggambarkan bahwa pencobaan ini memberi kesempatan kepada iblis untuk menguji Yesus bahwa apakah dia benar mampu menjadi manusia.Yancey berpikir pada dasarnya tidak ada letak kesalahan dari tiga cobaan iblis kepada Yesus. Apabila ditinjau lebih jauh hal semacam itu harus menjadi wajar sebagai sebuah hak istimewa di dalam diri seorang Mesias. Keistimewaan memang sifat-sifat yang diharapakan ada pada Mesias. Tetapi kemudian Yancey menjelaskan bahwa Yesus secara sadar menolak segala anjuran iblis karena pertama-tama Dia ingin hanya Allah yang disembah lalu kedua ialah berkaitan dengan kekuasaan-Nya dikungkung demi tetap terjaganya kebebasan manusia. Malcolm Muggeridge bahkan menilai bila Yesus setuju untuk memilih kuasa yang iblis tawarkan tentu pekerjaan Yesus dalam menegakan Kerajaan Allah jauh lebih muda. Yancey pada bagian akhir menambahkan bahwa dengan mempertaruhkan reputasi Allah, Yesus memberikan penghormatan besar kepada kebebasan manusia. Yesus tidak suka memaksakan kehendak tetapi Dia lebih cenderung membeberkan akibat dari sebuah pilihan lalu melemparkanya kembali kepada pihak lainya. Ini adalah bentuk konsekuensi dari pengekangan diri Yesus.
o   Profil: Apa yang bisa terlihat oleh saya?
Yancey memiliki pendapat unik mengenai Yesus yaitu banyak fakta tentang Yesus yang didapat sejak sekolah minggu tetapi sebagai sebuah pribadi Yesus terasa jauh dan dua dimensi. Akan tetapi secara tradisional Yesus terlanjur digambarkan sebagai sosok tampan dan serba sempurna bagi ukuran seorang manusia. Padahal Yancey sendiri mengidentifikasi sosok Yesus lewat bantuan PL karena injil tidak menyediakan profil utuh tampang Yesus, ditemukan bahwa Yesus mungkin tidak setampan dan tampil dengan sempurna seperti tradisi yang melekat pada-Nya. Yancey tidak menggunakan ukuran tampilan fisik Yesus untuk memahami kepribadian Yesus. Yancey menemukan bahwa Yesus didalam injil ialah pribadi yang kharismatis, suka memuji, membela orang lain, dan akrab dengan orang di sekeliling-Nya. Mary Gordon bahkan menyatakan bahwa Yesus sangat peka terhadap anak-anak dan wanita. Yesus bukanlah sosok yang menggunakan jadwal tertentu dalam hidup, bahkan Bonhoeffer menyatakan bahwa Yesus ialah milik orang lain karena dengan bebas dia membiarkan orang lain mengganggu waktunya. Yancey kemudian memberikan suatu pemahaman menarik bahwa Yesus walaupun dalam inkarnasinya dengan Allah tetap hidup di bawah hukum alam, bahkan Ia hidup dan mati dengan hukum bumi. Selanjutnya mengenai kemampuan mukjizat Yesus, hal inilah yang pertam kali menjadikan Yesus terkenal diantara komunitasnya. Kemampuan penyembuhan ini mengisi sepertiga dari injil yang dimana terdapat dua hal penting terkait kisah penyembuhan, yaitu: pertama, Yesus menyembuhkan sebagai reaksi spontan akan kebutuhan orang lain (tidak pernah sekalipun Dia menolak permintaan tolong langsung). Kedua, Yesus tidak pernah menggembar-gemborkan kemampuan-Nya. Gerakan Yesus dan pengikut-Nya ialah gerakan tanpa basis dan bahkan berkelana tanpa strategi dari satu kota ke kota lain. Hidup berpindah-pindah semacam ini wajar bagi seorang guru/ Rabi seperti Yesus. Secara finansial Yesus hidup pas-pasan dan pada beberapa kesempatan ditopang oleh beberap orang yang disembukan-Nya. Dalam mengajar Yesus banyak menggunakan pertanyaan dan perumpamaan, tetapi dengan pola yang sangat berbeda dengan guru keliling lain (Yesus menunjukan kebenaran kepada diri-Nya). Dalam kaitan dengan murid-Nya Yesus terkesan aneh ketika memilih orang-orang kecil yang dianggap tidak dapat diandalkan dan bukan memilih kaum cendikiawan yang mungkin lebih menjamin sebagai murid-Nya. Meski demikian degil mereka, Yesus menurut Yancey memiliki alasan mengapa memilih orang-orang dari kaum biasa-biasa saja seperti mereka. Alasan pertama ialah untuk menyertai Dia, dimana mereka menjadi keluarga dan sahabat Yesus. Alasan kedua ialah untuk diutus-Nya, merekalah yang dipersiapkan Yesus untuk melanjutlkan karya-Nya karena Yesus sadar waktu-Nya di bumi hanya sementara.
Bagian Dua: Mengapa dia datang?
o   Ucapan bahagia: Beruntunglah mereka yang tidak beruntung.
Yancey membuka bab ini dengan menyatakan bahwa tanpa mengerti ajaran-Nya tidak mungkin untuk mengerti Yesus. Untuk memahami Yesus,Yancey mencoba menilik ajaran Yesus tentang ucapan bahagia yang pada dasanya bersifat kontradiktif. Secara umum Yancey simpulkan bahwa Yesus menyatakan beruntunglah mereka yang tidak beruntung. Yancey membagi ucapan bahagia Yesus ke dalam tiga tingkat: janji upah, keterbalikan besar, dan realitas psikologi.Yesus memberikan ucapan bahagia dalam sudut pandang seorang realis yang menempatkan cara hidup dunia yang memang lekat sebagai sebuah realita: kemiskinan, dukacita, kelemah-lembutan, rasa lapar untuk kebenaran, bahkan sampai pada penganiayaan. Yesus sendiri pada akhirnya menjadi khotbah yang hidup dari ucapan bahagia tersebut.
o   Pemberitaan: Khotbah yang menusuk.
Yesus memperluas hukum. Khotbah dibukit bagi Yancey mula-mula merupakan target ideal-ideal yang oleh dirinya sendiri diragukan apakah mampu untuk dijalankan. Melalui khotbah di bukit, Yesus seakan-akan dengan anehnya memutar balikan segala hal menjadi sangat kontradiktif. Bagaimana mungkin orang Yahudi mampu mengasihi musuh yang membunuh keluarga mereka? Kemudian Yesus mengungkapkan prinsip anti kekerasan dengan konsep memberikan pipi lain saat di tampar. Yancey menyatakan bahwa khotbah ini meminta manusia secara tidak langsung untuk hidup sempurna tetapi ironisnya tidak ada manusia yang sempurna. Banyak pandangan mengenai makna khotbah ini tetapi Yancey sendiri setelah menilik banyak pendapat ahli pun masih sama, berpikir bahwa khotbah Yesus ini terlalu ideal untuk dilaksanakan. Tetapi pada bagian akhir bab Yancey menunjukan bahwa Yesus memberikan khotbah ini bukan semata-mata untuk mengkerdilkan manusia dihadapan kesempurnaan tetapi Yesus menyatakan adanya kesamaan antara setiap manusia dengan rata dihadapan Allah melalui kasih karunia Allah sendiri. Bahkan sistem legalisasi hukum ala Farisi tidak ada gunya bagi Yesus tanpa kasih karunia Allah sebagaimana dikemukakan Yancey.
o   Misi: Sebuah Revolusi anugerah.
Yesus pada bab ini ditunjukan sebagai sosok yang meretas segala stigma negatif dan yang dianggap tabu oleh kaum saleh Yahudi.Yesus dekat dengan orang berdosa, pelacur, pemungut cukai, bahkan makan dengan orang kusta. Sungguh suatu perbuatan najis dan berani yang membuat orang Farisi semakin tidak suka dengan cara yang Yesus perbuat. Yesus secara tidak langsung telah menjadi tokoh revolusioner yang mengalihkan penekanan kesucian Allah yang eksklusif ke bentuk belas kasihan Allah yang inklusif. Cerita mengenai Yesus yang selalu lari kepada Allah melalui doa tatkala hatinya sedih menunjukan bahwa Yesus mengajarkan Allah ialah pengasih yang mendekat bukan sekedar Sang Penguasa mutlak yang tidak bergerak.
o   Mukjizat: Kilasan Supernatural.
Yancey mencatat bahwa kurang lebih tiga puluh enam kali Yesus melakukan mujizat. Tetapi catatan penting lain yaitu Yesus sering meminta agar mukjizat itu tidak perlu di diberitahukan kepada orang lain. Meskipun pada jamanYesus ternyata menurut Yancey orang-orang cukup skeptis terhadap mukjizat dengan menganggap hal itu semacam praktik sihir. Mukjizat pertama yang dilakukan Yesus ialah mukjizat yang unik sekaligus yang hanya sekali itu saja dilakukanya lalu kemudian meminta agar apa yang Dia lakukan dirahasiakan. C.S. Lewis menyatakan bahwa mukjizat Yesus tidak berlawanan dengan hukum alam, itu hanya bagian penciptaan skala kecil dan dengan kecepatan berbeda.  Dalam kaitan antara mukjizat penyembuhan dan penyakit Yesus menolak pemahaman bahwa penyakit ialah karena dosa tertentu. Lalu dalam melakukan mukjizat Yesus lebih banyak melakukan penyembuhan, yang kemudian menjadi refleksi mengapa orang-orang sibuk meminta penyembuhan sakit jasmani sedangkan mereka tidak sekali pun menangkap ajaran Yesus yang berkaitan dengan sakit rohani (dosa). Mukjizat besar Yesus lainya ialah bahwa Dia memberi makan kurang lebih lima ribu orang padahal dia masih dalam suasan berduka karena Yohanes Pembaptis di penggal. Yancey menyimpulkan bahwa mukjizat Yesus yang terdiri dari penyembuhan dan membangkitkan orang mati sama sekali tidak menyelesaikan masalah kesakitan di bumi karena memang bukan itu tujuan utama Yesus. Kenyataan supernatural yang Yesus tunjukan semata-mata bertujuan untuk menyatakan bahwa Allah pada waktu-Nya akan memperbaiki semua kesalahan di bumi.
o   Kematian: Minggu terakhir.
Injil menempatkan kematian sebagai pusat misteri Yesus, hanya dua injil yang memuat kelahiran-Nya, dan injil hanya menulis serba sedikit informasi tentang kebangkitan Yesus. Tetapi kisah menjelang kematian Yesus mendapat porsi yang lebih detail dalam injil. Yancey mengemukakan pola urutan kejadian dimana sebelum Yesus disalib yaitu mulai dari Yesus dielu-elukan di Yerusalem, perjamuan terakhir, pengkhiatan, pengadilan, dan terakhir kalvari. Dalam keadaan penuh derita pun Yesus menjadi sosok yang mampu mendoakan orang-orang agar di ampuni. Yesus saat mengutip mazmur saat di kayu salib bagi Yancey mengeksperisakan perasaan seakan ditinggalkan. Yesus melalui salib menyatakan Allah mampu menanggalkan kekuasaan-Nya demi kasih.
o   Kebangkitan: Sebuah pagi yang tak bisa di percaya.
Yancey mengutip Paulus mengenai pentingya kebangkitan Yesus yang jika tidak terjadi maka pekabaran injil sia-sia adanya. Saksi pertama kebangkitan Yesus ialah kaum wanita kemudian hal penting lainya ialah injil tidak memberikan kebangkitan Yesus dalam kerangka apologetika. Yesus menampakan diri setelah bangkit sebanyak 12 kali dan hanya menunjukan diri pada orang dekat-Nya saja. Implikasinya ialah Yesus ingin mereka memilih untuk percaya kepada-Nya atau tidak sama sekali dan pada kenyataanya mereka kemudian hari menjadi percaya tanpa ragu sedikit pun. Bahkan Yakobus saudara Yesus menurut Yosefus menjadi orang percaya yang kemudian memimpin gereja di Yerusalem. Kebangkitan ini menyiratkan pemenuhan dari penghargaan Allah atas kebebasan manusia dengan kematian dan kemenangan saat Yesus bangkit.
Bagian Tiga: Apa yang Ia tinggalkan
o   Kenaikan: Langit biru kosong.
Yesus tidak pernah meninggalkan semua karya-karya yang Dia kerjakan dalam bentuk tulisan atau buku. Yesus lebih banyak dikenang lewat ajaranya, Dia tidak pernah sekalipun membangun dinasti, tidak banyak hal yang Dia tinggalkan kecuali jejak ajaran. Yesus telah menyatakan kepada murid-murid bahwa mereka akan menjadi lebih berguna bila Yesus pergi. Butuh waktu enam minggu bagi murid-murid untuk sadar makna perkataan Yesus tadi. Melalui pekerjaan murid-murid inilah tubuh lain Kristus terbentuk yang kemudian meneruskan inkarnasi Allah, yaitu Gereja. Gereja menjadi tempat Allah hidup pasca Kristus.
Pada pembahasan lain Yancey mengemukakan bahwa dengan naik ke sorga sebenrnya Yesus beresiko untuk dilupakan, tetapi Yesus dalam kisah di Matius telah menyadari hal tersebut bahkan telah memberikan perumpamaan yang sesuai tentang kepergiaan-Nya. Pada bagian akhir mengutip O’Connor, Yancey berpendapat bahwa dengan sifat kasih Allah Kristus menanggung luka gereja seperti Ia menanggung luka penyaliban.
o   Kerajaan: Gandum ditengah ilalang.
Sebagai Mesias yang tidak pernah secara verbal menyatakan bahwa Dia Mesias, disebabkan karena apabila dia mengaku secara luas bahwa diri-Nya Mesias maka hanya akan ada pertumpahan darah dan korban sia-sia dari geraka revolusi Yahudi. Yesus menjadi sosok yang tidak diharapkan dari pewujudnyataan kerajaan Allah dibumi oleh bangsa Yahudi. Mereka mengharapkan kemegahan fisik dari kerajaan Mesias. Tetapi Yesus yang tidak pernah menggunkan azas pemaksaan membawa kerajaan Allah yang hidup ditengah-tengah manusia. Gereja pada masa sekarang ialah pihak yang harus menumbuhkan kerajaan Allah di dunia.
o   Perbedaan  yang di buat-Nya.
Yesus menjadikan orang tidak nyaman bersama Dia, hanya kaum yang membuat orang lain tidak merasa nyamanlah yang merasa nyaman berada dekat Yesus.Ia terkenal sukar di ramalkan, dikendalikan, dan bahkan di mengerti. Yancey menyimpulkan Yesus ke dalam beberapa konsepsi yaitu:
Ø  Sahabat orang berdosa yang Tidak Berdosa.
Ø  Allah dan Manusia.
Ø  Potret Allah.
Ø  Kekasih.
Ø  Potret Kemanusiaan.
Pada bagian terakhir Yancey menyebut Yesus sebagai Penyembuh yang Terluka. Mengutip Yesaya, Yancey menyatakan bahwa karena luka-luka Hamba itulah manusia disembuhkan.

Related Posts:

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Pages

Pengikut Blog

Profil Josua Maliogha

Diberdayakan oleh Blogger.

Daftar Negara Pengunjung

free counters

Sponsor